Senin, 27 Desember 2010






• Ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain, disebut adminsitrasi material.
• Dalam mengembangkan sekolah yang dipimpinnya, kepala sekolah harus mendorong staf untuk terlibat dalam berbagai kegiatan. Prinsip tersebut disebut kepemimpinan partisipatif.
• Proses komunikasi bisa terjadi apabila terdapat tiga hal yakni, encoding, decoding dan penyampaian
• Menentukan metode, sumber, menyusun data serta mengumpulkannya merupakan pengorganisasian data
• Kepemimpinan kepala sekolah adalah cara atau usaha kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan guru, staf, siswa dan orang tua, dan pihak lain yang terkait untuk berperan serta/bekerja guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
• Yang disebut bendaharawan adalah : pejabat yang berwenang melakukan penerimaan dan pengeluaran uang atau surat-surat berharga lainnya yang dapat dinilai dengan uang dan diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban.
• Prinsip kesatuan kerja untuk tercapainya tujuan pendidikan di sekolah dasar harus bermuara pada kegiatan adminstrasi, kurikuler, dan ekstrakurikuler.
• Proses yang menyangkut perumusan dan rincian pekerjaan dan tugas untuk menciptakan kerjasama yang harmonis ke arah tercapainya tujuan secara efektif dan efisien, disebut pengorganisasian.
• Untuk kemajuan sekolah perlu mengembangkan tenaga guru yang dimiliki oleh sekolah. Langkah yang dilakukan kepala sekolah untuk mengembangkan tenaga guru melalui tahapan : peningkatan profesionalisme, pembinaan karir, pemberian kesejahteraan.
• Kepala sekolah dalam mengatasi masalah harus melalui tahapan : mengidentifikasi masalah – membuat prioritas – melakukan analisis – menentukan target.
• Pengembangan sekolah dilaksanakan secara terpadu dan berjenjang serta melalui beberapa tahapan. Untuk mewujudkannya perlu dibentuk Tim Perencana Pengembangan Sekolah terdiri dari Kepala Sekolah, guru, dan perwakilan orang tua.
• Dalam mendukung keberhasilan kepemimpinannya seorang kepala sekolah harus memiliki sifat : kepribadian yang kuat, memahami tujuan pendidikan, dan memiliki pengetahuan yang luas.
• Administrasi kesiswaan adalah bagian dari administrasi pendidikan di sekolah yang menangani masalah-masalah kesiswaan dari mulai siswa masuk sekolah sampai keluar/tamat
• Kiat memanfaatkan waktu dengan cara yakni membiasakan diri disiplin waktu, membiasakan bekerja secepat mungkin, tidak membiarkan waktu kosong tanpa kegiatan.
• Dalam menjalankan kepemimpinannya kepala sekolah hendaknya mengutamakan musyawarah, meskipun suatu saat dapat pula melakukan hal sesuai dengan situasi dan kondisi. Prinsip demikian disebut demokrasi

Selasa, 21 Desember 2010

bag. 2
Oleh :Tatang Jaelani M.


C. Pengelolaan Administrasi Program Pengajaran/Kurikulum
Administrasi program pengajaran adalah keseluruhan proses penyelenggaraan kegiatan di bidang pengajaran yang bertujuan agar seluruh kegiatan bisa terlaksana secara berhasil guna dan berdaya guna.
Sebelum memasuki tahun pelajaran baru, kepala sekolah bersama guru bermusyawarah untuk menyusun program tahunan, program semester, jadwal pelajaran, dan pe,bagian tugas mengajar. Jadwal pelajaran dan alokasi waktu sudah tercantum dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (Silabus) sedangkan persiapan mengajar dibuat oleh guru sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar.
Tahap kegiatan administrasi program pengajaran yang wajib dilakukan kepala sekolah adalah :
1. Kegiatan administrasi program pengajaran :
a. Menyusun program tahunan dan semester serta pembagian tugas mengajar
b. Menyusun jadwal pelajaran
c. Mengatur penyusunan persiapan mengajar dan batas pelajaran
d. Mengatur pelaksanaan evaluasi

e. Megatur catatan kemajuan siswa
f. Mengatur usaha pembinaan, perbaikan, dan pengayaan.
g. Mengatur program penggunaan waktu jam kosong
h. Mengatur kegiatan ekstrakurikuler
Penyusunan persiapan mengajar bertujuan :
Agar KBM berjalan dengan lancar dan efektif
Sebagai umpan balik bagi guru untuk mengukur hasil KBM
Bahan supervisi bagi kepala sekolah dan pengawas seklah
Evaluasi belajar adalah : “Kegiatan mengukur dan dan menilai kemampuan siswa sesudah mengikuti proses belajar mengajar”. Evaluasi/ulangan terdiri dari ulangan harian dan ulangan umum
2. Kegiatan harian, meliputi :
Memeriksa daftar hadir guru/pegawai
Memeriksa persiapan harian dan batas pengajaran
Mengadakan pengawasan umum terhadap berlangsungnya pengajaran
Mengatasi permasalahan yang terjadi pada hari itu
Mengawasi segala sesuatu menjelang sekolah usai
3. Kegiatan Minguna, meliputi :
Pada hari senin melakukan upacara penaikan bendera
Pada hari sabtu dilakukan upacara penurunan bendera
(Upacara hari senin dihadiri oleh semua warga sekolah, sedangkan upacara hari sabtu dihadiri oleh satu kelas secara bergilir)
4. Kegiatan semester, meliputi :
Mempersiapkan ulangan harian dan ulum
Pengisian raport
Pembagian raport
5. Kegiatan menjelang akhir tahun pelajaran, meliputi :
Menyelenggarakan UAS/UASBN bagi kelas akhir, dan menyusun laporan sesuai petunjuk
Melaksanakan ulum bagi kelas lainnya
Membuat laporan akhir tahun
Pembagian raport
Kenaikan kelas
Kelulusan

bag. 1

Oleh : Tatang Jaelani M.
A. Pengelolaan Administrasi Kesiswaan
Administrasi kesiswaan adalah bagian dari administrasi pendidikan di sekolah yang menangani masalah-masalah kesiswaan yang berupa pengelolaan siswa atau data-data tentang siswa sejak masuk sampai siswa tersebut meninggalkan sekolah (tamat)
Pengelolaan administrasi kesiswaan meliputi :
 Penerimaan siswa baru
 Pengisisan data siswa :
a. Buku Induk
b. Buku Klaper
c. Daftar Kelas
d. Buku Raport
e. Daftar Nilai

3. Melakukan bimbingan kepada siswa
• Mengatur pembagian kelas
• Melakukan pencatatan kehadiran siswa
• Mencatat keterlambatan siswa
• Mengarahkan dan mengatur kegiatan organisasi siswa
• Mengerjakan buku mutasi murid
• Mengatur waktu belajar kelas
• Membina usaha kesehatan sekolah
• Melaksanakan kegiatan pelepasan siswa kelas

Data siswa terdiri dari :
• Identitas siswa
• Data kehadiran
• Data hasil belajar siswa
B. Pengelolaan Administrasi Kepegawaian
Administrasi kepegawaian di sekolah adalah penata usahaan pegawai dalam lingkungan sekolah.
Tujuannya adalah menggunakan tenaga kerja di sekolah agar berdaya guna, berhasil guna dan tepat guna untuk menciptakan dan memelihara serta mengembangkan suasana kerja yang menyenangkan.
Pengadministrasian pegawai meliputi :
 Pengadaan Pegawai/Personil
pengadaan pegawai dilaksanakan oleh pemerintah melalui kepala pemerintahan daerah
 Pembinaan Pegawai/Personil
Pembinaan harus dilakukan secara kontinue, dan bisa dilakukan melalui berbagai cara, di antaranya :

a. Melalui usaha sendiri (guru rajin membaca buku, majalah, buletin, membuka internet, dsb.)
b. Melalui penataran-penataran
c. Melalui diskusi (KKG, PKG, dll.)
d. Mendengarkan siaran radio, televisi,dll.

 Kesejahteraan Guru, meliputi :
a. Kesejahteraan Finansial
- Gaji dan tunjangan lainnya sesuai dengan haknya
- Kenaikan gaji dan pangkat sesuai waktu
- Jaminan kesehatan bagi diri dan keluarganya
b. Kesejahteraan mental
- Kunjungan kekeluargaan
- Rekreasi bersama
- Pengaturan/pembagian tugas yang sesuai

• Kenaikan Pangkat
Kenaikan pangkat guru sesuai dengan SK Menpan No. 26 Tahun 1989 menggunakan sistem kredit.
• Pensiun
Semua pegawai pada masa usia tertentu akan mengalami purna bakti
• Kelengkapan Administrasi Kepegawaian
- Buku Induk Pegawai
- Buku catatan penilaian pegawai
- Surat-surat usulan kenaikan pangkat/gaji
- Berkas kepegawaian (Ijazah, Karpeg, Taspen, Karis/Karsu)
Tugas Guru SD
Guru SD berfungsi sebagai guru kelas, artinya mengajar berbagai mata pelajaran di kelas tertentu.
Selain itu guru juga harus menyelesaikan tugas :
- Administrasi kelas
- Kesiswaan
- Bimbingan & Penyuluhan
- Kemasyarakatan

Jumat, 22 Oktober 2010

Oleh :
TATANG JAELANI M.


Strategi Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) antara lain :
 Penyiapan Konsep
- Pemilihan Kepala Sekolah & guru profesional
- Bentuk partisipasi orang tua
- Motivasi/kemauan orang tua
- Kemampuan alokasi dana/keuangan
- Kualitas pembelajaran & hasil lulusan
- Keterlibatan semua stakeholders pendidikan


2. Pendekatan Implementasi
Dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan/memperhatikan :
- kondisi sekolah
- kondisi sosial budaya masyarakat
- faktor geografis
- budaya
- potensi dasar masyarakat

3. Tahapan Pelaksanaan
a. Sosialisasi Konsep
b. Semiloka
c. Pelatihan
d. Pembentukan Dewan Sekolah
e. rencana Pengembangan MBS
f. Monitoring & evaluasi
g. Pembinaan
Indikator Keberhasilan Implementasi MBS
 Efektivitas proses pembelajaran
 Kepemimpinan kepala sekolah yang kuat
 Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif
 Sekolah memiliki budaya mutu
 Sekolah memiliki “Teamwork” yang kompak dan cerdas
 Sekolah memiliki kemandirian

• Partisipasi warga sekolah dan masyarakat
• Sekolah memiliki transparansi
• Sekolah memiliki kemauan untuk berubah
• Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan
• Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan
• Sekolah memiliki akuntabilitas
• Output prestasi sekolah
• Penekanan angka DO dan Kepauasan staf
Desentralisasi fungsi-fungsi sekolah
• Perencanaan dan evaluasi
• Kurikulum
• Ketenagaan
• Fasilitas
• Keuangan
• Kesiswaan
• Hubungan dg masyarakat
• Iklim Sekolah
Implementasi MBS dapat pula dilakukan melalui tahapan sbb :
 Sosialisasi
dengan tujuan agar warga sekolah faham tentang “Apa”, “mengapa” dan “bagaimana” MBS diselenggarakan
 Merumuskan Renstra
Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran sekolah
Visi : Gambaran masa depan tentang wujud organisasi yang realistik dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu.
Misi : Tindakan atau program yang harus dilakukan oleh organisasi/sekolah guna mencapai visi

Tujuan : Hasil akhir yang akan dicapai dalam jangka waktu tertentu

Sasaran : Gambaran hal yang ingin diwujudkan melalui tindakan- tindakan yang diambil organisasi /sekolah guna mencapai tujuan



• Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran
- Fungsi PBM
- Fungsi Pengembangan Kurikulum
- Fungsi perencanaan & evaluasi
- Fungsi ketenagaan
- Fungsi keuangan
- Fungsi pelayanan kesiswaan
- Fungsi pengemb. iklim akademik sekolah
- Fungsi hubungan Sekolah & masyarakat
- Funsi pengembangan fasilitas

 Melakukan Analisis SWOT (Strenght, Weaknes, Opportunity, and Threat)
Untuk menentukan kesiapan setiap fungsi dan faktor guna mencapai sasaran yang telah ditetapkan
 Menyusun dan melaksanakan rencana peningkatan mutu
- Rencana jangka pendek, menengah, panjang.
- Warga sekolah dituntut mampu memanfaatkan sumber daya pendidikan yang tersedia
 Melakukan Monitoring dan evaluasi serta merumuskan sasaran mutu baru
Bertujuan mengetahui kekuatan dan kelemahan agar dapat diperbaiki pada tahun berikutnya

Faktor Pendukung keberhasilan MBS :
 Kepemimpinan dan manajemen sekolah yang baik
 Kondisi sosial, ekonomi, dan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan
 Dukungan Pemerintah
 Profesionalisme

Alhamdulillah…………………


Sumber :
- Drs. Hermansyah, (2008) Materi diklat P4TK Depdiknas, Bandung
- Drs. Mudjito, M.A., (1988) Manajemen Sekolah Dasar, CV.Inti Buku Utama
- Tim Pokja School Based Management, (2001), Pedoman Implementasi MBS di Jawa Barat, Dinas Pendidikan Prov. Jabar

Senin, 18 Oktober 2010

Di dalam proses pembelajaran di sekolah, sudah bukan rahasia umum lagi jika seorang guru sering menghadapi persoalan dengan sejumlah siswa, di mana setiap siswa tersebut mempunyai ciri khas masing-masing yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dalam segi kemampuan intelektual, emosional, latar belakang keluarga maupun kebiasaan.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, serta dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar tersebut berlangsung secara efektif selain diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang digunakan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik diperlukan pula aturan dan tata tertib yang baku agar dalam pelaksanaannya teratur dan tidak menyimpang. Siswa harus menjadi subjek belajar, bukan hanya menjadi pendengar setia atau pencatat yang rajin, tetapi siswa harus aktif dan kreatif dalam berbagai pemecahan masalah. Dengan demikian guru harus dapat memilih dan menentukan pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan kemampuannya, kekhasan bahan pelajaran, keadaan sarana dan keadaan siswa.
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik tentunya harus ditunjang dengan berbagai komponen sebagai penunjang proses pembelajaran tersebut, salah satunya adalah media pembelajaran. Berikut ini penulis ingin memaparkan tentang pentingnya penggunaan media pembelajaran sebagai penunjang proses belajar mengajar.
1. Pengertian Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan oleh guru sebagai alat bantu dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sehingga peserta didik dapat dengan mudah menangkap, memahami, dan memiliki pesan-pesan dan makna yang disampaikan dalam pembelajaran tersebut. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk plural dari kata “medium” yang artinya “perantara” atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dengan demikian media pembelajaran adalah media untuk membantu guru menyampaikan pesan-pesan secara lebih mudah sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara cepat dan akurat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media pengajaran adalah segala alat pengajaran yang digunakan guru sebagai perantara untuk menyampaikan bahan-bahan instruksional dalam proses belajar mengajar sehingga memudahkan pencapaian tujuan pengajaran.
Adapun tujuan dari penggunaan media pembelajaran itu sendiri adalah untuk membantu guru menyampaikan pesan-pesan secara lebih mudah kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara cepat dan akurat.

2. Pengunaan Media Pembelajaran
Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasioan bab 1 Pasal 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan agar peserta didik tersebut berperan dalam kehidupan masa depannya. Pendidikan merupakan ungkapan kasih sayang kepada anak-anak yang akan mengambil alih generasi sebelumnya. Anak-anak perlu diberi bekal di dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Pemberian bekal bagi anak-anak itulah yang dinamakan pendidikan.
Faktor kemampuan anak besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping kemampuan, faktor lain yang juga mempunyai kontribusi terhadap hasil belajar seseorang ialah motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, faktor fisik dan faktor psikis. Adanya pengaruh dari dalam diri anak merupakan hal yang logis jika dilihat bahwa perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang disadarinya. Jadi, sejauh mana usaha anak untuk mengkondisikan dirinya bagi perbuatan belajar, sejauh itu pula hasil belajar akan ia capai.
Menggunakan media pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan menciptakan kondisi belajar yang merangsang peserta didik agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Seorang guru harus dapat memilih dan menetapkan media yang paling tepat dan sesuai untuk penyampaian bahan tertentu, kondisi belajar peserta didik dan metode yang telah dipilih.
Salah satu ciri media pembelajaran adalah bahwa media mengandung dan membawa pesan atau informasi kepada penerima atau siswa. Sebagian media dapat mengolah pesan dan respons siswa sehingga media itu sering disebut media interaktif.
Secara garis besar media dapat dibedakan menjadi beberapa bagian di antaranya :
a. Media Berbasis Manusia
Media berbasis manusia merupakan media tertua yang digunakan untuk mengirimkan dan mengkomunikasikan pesan atau informasi. Media ini bermanfaat khususnya bila tujuan kita adalah mengubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa.
Salah satu faktor penting dalam pembelajaran dengan media berbasis manusia adalah rancangan pelajaran yang interaktif. Untuk dapat menentukan langkah-langkah interaktif tersebut harus diperhatikan beberapa faktor, antara lain :
- mengidentifikasi pokok bahasan pelajaran
- mengembangkan sajian pembelajaran yang mencakup semua informasi yang diharapkan siswa harus dikuasai
- membaca/mengamati keseluruhan penyajian dan menentukan di mana dialog-dialog interaktif digabung dan disisipkan.
- menetapkan jenis informasi yang diinginkan dari siswa
- menentukan pesan-pesan apa yang ingin disampaikan dengan kegiatan interaktif
- menentukan butir-butir diskusi penting dengan melibatkan siswa dalam pelaksanaannya.

b. Media Berbasis cetak
Media pembelajaran berbasis cetakan yang paling umum dikenala adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran lepas.
Beberapa cara yang digunakan untuk menarik perhatian pada media berbasis cetak adalah adanya modifikasi pada alat itu sendiri antara lain dengan cara memperhatikan warna, huruf dan kotak.
Warna digunakan sebagai alat penuntun dan penarik perhatian kepada infomasi yang penting. Sedangkan untuk menarik perhatian dalam bentuk huruf dapat dilakukan dengan cara dicetak tebal atau dicetak miring. Sementara itu penggunaan kotak merupakan penekanan kepada informasi penting yang harus diperhatikan.

c. Media Berbasisi Visual
Media berbasisi visual (image atau perumpamaan) memgang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Menggunakan media visual akan memperlancar pemahaman. Selain itu media visual juga dapat menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi dengan dunia nyata. Alat-alat yang termasuk media berbasis visual antara lain :
- Gambar/foto
- Sketsa
- Diagram
- Bagan
- Grafik
- Kartun
- Poster
- Globe, dll.

d. Media Berbasisi Audio Visual
Media visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjan penting yang diperlukan dalam audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian.
Jenis-jenia peralatan yang termasuk media berbasis audio-visual antara lain :
- Film gerak
- Program Televisi
- Video

e. Media Berbasis Komputer
Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran secara umum mengikuti proses instruksional sebagai berikut :
- merencanakan, mengatur, dan mengorganisasikan, serta menjadalkan pengajaran;
- mengevaluasi siswa (tes);
- mengumpulkan data mengenai siswa;
- melakukan analisis statistik mengenai data pembelajaran;
- membuat catatan perkembangan pembelajaran (kelompok atau perseorangan)




DAFTAR PUSTAKA




Azhar Arsyad, Prof. Dr., M.A. (1996) ”Media Pembelajaran” PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

Cicih Sunarsih, Dra., MM. (2006), “Dasar-dasar PBM di Sekolah Dasar” Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (PPGT), Bandung.


Rudi Budiman, Drs.(2008). “Media Pembelajaran” P4TK & PLB, Bandung.

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab II pasal 3 berbunyi : “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertangung jawab”.

A. Pengertian Kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yakni dari asal kata curir artinya pelari. Kata Curere artinya tenpat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang ditempuh oleh seorang pelari. Kurikulum diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa/murid untuk mencapai ijazah. (DR. Nana Sujana, 1987 : 2).
Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentu saja berpengaruh pula terhadap dunia pendidikan. Perubahan dalam bidang pendidikan tentu saja erat pula dengan perubahan pandangan tentang kurikulum. Konsep ini mengandung makna bahwa isi kurikulum bukan hanya sejumlah mata pelajaran, tetapi juga mencakup semua kegiatan siswa dan semua pengalaman belajar siswa di sekolah.
Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai;e.
Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional);
Menurut Yudrik Jahja (2005 : 4) menyebutkan bahwa : “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”.
Sementara itu menurut Nana Sujana (1987 : 3) menyebutkna bahwa : Kurikulum dipandang/diartikan sebagai program belajar bagi siswa (plan for learning) yang disusun secarasistematis, dan diberikan oleh sebuah lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dengan kata lain kurikulum dapat diartikan kurikulum adalah program belajar atau dokumen yang berisikan hasil belajar yang diharapkan dimiliki siswa di bawah tanggung jawab sekolah, untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pendidikan di Indonesia terus berbenah sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sesuai dengan keinginan yang ingin dicapai yang didasarkan pada tujuan pendidikan nasional. Dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, tercatat telah lahir beberapa kurikulum pendidikan yang merupakan usaha dalam rangka perbaikan sistem pendidikan.

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dalam Penyusunan Kurikulum
Anak-anak usia dini hidup dalam dunia bermain. Meskipun demikian,tak ada salahnya jika orang tua memiliki rancangan bahan atau materi untuk mengisi hari-hari mereka. Hal yang pasti, kurikulum untuk anak usia dini haruslah sangat fleksibel, sesuai dengan kemampuan dan minat anak. Kelas-kelas prasekolah seperti Play Group (PG) atau Taman Kanak-Kanak (TK) pasti memiliki kurikulum dan target-target, namun karena tuntutan aturan formal, mau tidak mau guru akan menilai perkembangan anak secara kasar, berdasarkan akumulasi kemampuan yang dikuasai anak selama kurun waktu tertentu. Jelas penilaian itu tidak valid, karena ketika guru memasuki kurikulum mewarnai misalnya, beberapa anak mungkin belum siap dengan fase itu. Mereka mungkin menolak untuk melakukannya atau hanya membubuhkan satu coretan pendek di kertasnya, karena dia memang belum berminat.
Menyusun kurikulum untuk anak usia dini berarti siap mengikuti irama mereka dan siap untuk melangkah lebih jauh saat mereka berminat untuk tahu lebih banyak. Ketika anak-anak diperkenalkan tentang kuda misalnya, bisa jadi rasa ingin tahu mereka berkembang, ingin tahu tentang makanannya, di mana tidurnya, dan mungkin ingin mencoba menaikinya dan mengoleksi gambar-gambarnya. Perkembangan anak secara umum ternyata bisa diukur dengan beberapa ukuran berikut: perkembangan fisik motorik, perkembangan kognitif, perkembangan moral & sosial, emosional, dan komunikasi (Slamet Suyanto, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini:192. Penerbit: Hikayat Publishing. Yogyakarta) Kita bisa menciptakan kurikulum dengan mengacu pada teori tersebut. Berikut gambaran kasar kurikulum yang mungkin diterapkan:
1. Perkembangan fisik motorik
- Motorik Kasar: Berlari, memanjat, menendang bola, menangkap
bola, bermain lompat tali, berjalan pada titian keseimbangan, dll.
- Motorik Halus: Mewarnai pola, makan dengan sendok, mengancingkan baju, menarik resluiting, menggunting pola,menyisir rambut, mengikat tali sepatu, menjahit dengan alat jahit tiruan, dll.
- Organ Sensoris:Membedakan berbagai macam rasa, mengenali berbagai macam bau, mengenali berbagai macam warna benda, mengenali berbagai benda dari ciri-ciri fisiknya, mampu membedakan berbagai macam bentuk, dll.
2. Perkembangan Kognitif
Misalnya: mengenal nama-nama warna,mengenal nama bagian-bagian tubuh, mengenal nama anggota keluarga,mampu membandingkan dua objek atau lebih, menghitung, menata, mengurutkan; mengetahui nama-nama hari dan bulan; mengetahui perbedaan waktu pagi, siang, atau malam; mengetahui perbedaan kecepatan (lambat dan cepat); mengetahui perbedaan tinggi dan rendah, besar dan kecil, panjang dan pendek; mengenal nama-nama huruf alfabet atau membaca kata; memahami kuantitas benda, dll.
3. Perkembangan Moral dan social
Misalnya: Mengetahui sopan santun, mengetahui aturan-aturan dalam keluarga atau sekolah jika ia bersekolah, mampu bermain dan berkomunikasi bersama teman-teman, mampu bergantian atau antre, dan lain-lain.
4. Perkembangan Emosional
Misalnya: Menunjukkan rasa sayang pada teman, orang tua, dan saudaranya; menunjukkan rasa empati; mengetahui simbol-simbol emosi: sedih, gembira, atau marah dan mampu mengontrol emosinya sesuai kondisi yang tepat.
5. Perkembangan Komunikasi (Berbahasa)
Misalnya: Mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata,mampu melafalkan kata-kata dengan jelas (bisa dimengerti oleh orang lain).
Begitu beragam model kurikulum yang ada. Mau pilih yang mana? Mengumpulkan sebanyak mungkin sumber dan memilahnya sesuai kekhasan keluarga masing-masing adalah cara paling baik agar kita memiliki bahan yang lebih kaya untuk anak-anak kita.

DAFTAR PUSTAKA

Tini Sumartini, S.Pd. (206). Perkembangan Belajar Anak Usia Prasekolah, Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis, Bandung

Prof. DR. HJ. Samsunumiyati, “Psikologi Perkembangan”, PT Remaja Rosda Karya , Bandung

Yudrik Jahja, dkk (2005), “Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal”, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Jakarta.


Wikipedia Indonesia, Edisi April 2008.

Jumat, 23 April 2010

Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakan, guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang mengajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi edukatif dengan memanfaatkan mediumnya. Disini semua komponen pengajaran diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.

Belajar, Perkembangan dan Pendidikan merupakan tiga hal yang terkait dengan pembelajaran. Belajar dilakukan oleh siswa secara individu, perkembangan dialami dan dihayati pula oleh individu siswa sedangkan pendidikan merupakan kegiatan interaksi tersebut, pendidik bertindak mendidik si peserta didik. Tindakan mendidik tersebut tertuju pada perkembangan siswa atau peserta didik menjadi mandiri.

Belajar perkembangan dan pendidikan merupakan suatu peristiwa dan tindakan sehari – hari. Dari sisi siswa sebagai pelaku belajar dan dari sisi guru sebagai pembelajar, dapat ditemukan perbedaan dan persamaan. Hubungan guru dan siswa adalah fungsional, dalam arti pelaku pendidik dan terdidik. Dari segi tujuan yang akan dicapai, baik guru maupun siswa, sama-sama mempunyai tujuan tersendiri, meskipun demikian tujuan guru dan siswa tersebut dapat dipersatukan dalam tujuan instruksional. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan suatu tindakan yang memungkinkan terjadi belajar dan perkembangan. Pendidikan merupakan proses interaksi, yang mendorong terjadinya belajar. Dengan adanya belajar terjadilah perkembangan jasmani dan mental siswa.

1. Ciri-ciri Belajar-Mengajar

Dari suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suwardi sebagai berikut :

a. Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu.

b. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

c. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan penggarapan materi yang khusus. Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa sehingga cocok untuk mencapai tujuan itu.

d. Ditandai dengan aktivitas anak didik. Sebagai konsekwensi, bahwa anak didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

e. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing dan pendidik.

f. Dalam kegiatan belajar harus disiplin.

g. Ada batas waktu, dalam artian batas untuk mencapai tujuan.

h. Mengadakan evaluasi.

Belajar menurut pandangan Skinner. Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Artinya pada saat orang belajar, maka responnya akan menjadi lebih baik tapi tidak bila sebaliknya. Dalam belajar ditemukan hal-hal sebagai berikut :

a. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon pebelajar.

b. Respon si pebelajar, dan

c. Konsekuensi yang bersifat tersebut. Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut.

Dalam menerapkan Teori Skinner, pendidik perlu memperhatikan dua hal sebagai berikut :

a. Pemilihan stimulus yang diskriminatif.

b. Penggunaan penguatan.

Belajar menurut Gagne. Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar merupakan kapabilitas, artinya setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut dari :

a. Stimulus yang berasal dari lingkungan.

b. Proses kognitif, yang dilakukan oleh pebelajar.

Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses kognitif yang merubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru.

Belajar menurut pandangan Piaget, berpendapat bahwa pengehtahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan, dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang. Perkembangan intelek melalui tahap-tahap berikut :

a. Sensori motor (0,0 – 2,0 tahun)

b. Pra-operasional (2,0 – 7,0 tahun)

c. Operasional Kongkrit (7,0 – 11,0 tahun)

d. Operasi formal (11,0 – ke atas)

Menurut Piaget, pembelajarn terdiri dari empat langkah berikut :

a. Menentukan topik yang dapat dipelajari oleh peserta didik.

b. Memilih atau mengembangkan aktifitas kelas dengan topik tertentu.

c. Mengetahui adany kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah.

d. Menilai pelaksanaan setiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi.

2. Komponen Belajar Mengajar

Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi sebagai berikut :

a. Tujuan, adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan.

b. Bahan pelajaran adalah suatu substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar.

c. Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar.

d. Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kegiatan belajar mengajar.

e. Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.

f. Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.

3. Hakekat Belajar Mengajar

Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dari kegiatan pengajaran. Oleh karena itu inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya.

Keaktifan akan didik di sini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya, padahal pada hakekatnya adalah “perubahan” yang terjadi dalam diri seseorang yang telah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.

Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengjar adalah proses memberikan bimbingan, bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.

DAFAR BACAAN

Dr. Dimyati & Drs. Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, diterbitkan oleh Proyek Pembinaan dan Pembimbingan Mutu Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Tinggi Pendidikan Tinggi Depdikbud 1994.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, hal ini tercermin baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam kehidupan bernegara. Di lingkungan masyarakat dan kehidmatan kegiatan beragama baik dalam bentuk ritual, maupun dalam social keagamaan. Dalam pelaksanaan keagamaan diperlukan tempat yang di dalamnya terdapat suatu kegiatan atau program-program syiar agama. Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. dalam memperjuangkan syiar agama Islam Rasulullah berusaha menyusun kekuatan umat dengan segala aktivitas ke dalam mesjid.

Kehidupan muslim tidak mungkin dapat ditegakan, umat baru tidak mungkin dapat dibina, Ummatun Thoyyibah tidak mungkin diwujudkan kalau tidak dipusatkan segala aktivitasnya ke dalam masjid. Pemusatan segala aktivitas ke dalam masjid itu mengandung arti bahwa setiap muslim yang bercita – cita hendak memperjuangkan dan menegakan peribadatan kepada Allah , maka masidlah pancaran ibadah tergambar dan terpancar satu cita – cita dan gerakan yang dapat merubah struktur kehidupan masyarakat (Wildan : tt : 20).

Islam mendidik pemeluk – pemeluknya untuk bergaul di masyarakat, mempertebal ikatan Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan antar muslim. System jamaah di Mesjid mengandung seribu satu nilai yang penting. Mesjid mendidik manusia menumbuhkan solidaritas sosial yang kuat dan ajaran persamaan antar manusia. Anggota – anggota jamaah duduk bersama dalam satu barisan, yang miskin berdampingan dengan yang kaya dan rakyat biasa dapat bergandengan dengan para pejabat hal ini tidak yang diistimewakan, semuanya sama, serupa dan mempunyai tujuan yang sama yaitu mendapat ridlo Allah SWT. (Razak, 1973 : 237).

Tidak terbantah lagi, masjid merupakan sarana dan basis kekuatan umat Islam. Selama umat Islam menjadikan masjid sebagai pusat harokah Islamiyah, selama itu pula eksistensi kekuatan akan berimbas terhadap seluruh aspek kehidupan ini dapat dilihat sebagaimana orang yang hidupnya meningkatkan diri dengan aktifitas masjid dibanding dengan orang yang kurang mengenal mesjid, sebab bagaimanapun mesjid akan memberikan nuansa dan lingkungan yang sarat dengan kesejukan dan kejernihan jiwa. Selama ini fungsi dan peranan mesjid sepertinya dibatasi oleh aktivitas ritual saja. Padahal jika kita telusuri peran Rasulullah SAW., dan para sahabatnya dalam memfungsikan masjid, ternyata masih jauh dengan realitas sekarang ini. Pada masa itu masjid dijadikan sebagai pusat harokah, pusat pengkajian ilmiah dan pusat kepentingan umat (Haris Firdaus 2002 : 66).

Arti kata sebenarnya dari “mesjid” adalah tempat sujud, yaitu tempat orang bersembah yang menurut peraturan Islam sesuai dengan pendirian, bahwa Alloh itu ada dimana saja, tidak terikat kepada suatu tempat, maka untuk menyembah-Nya manusia dapat melakukan sholat dimana-mana. Memang menurut Hadits, mesjid itu adalah setiap jengkal tanah di atas bumi ini. Namun dalam prakteknya untuk melakukan sembahyang itu, terutama sembahyang bersama, selalu disediakan tempat tersendiri ; tanah lapang diberi batas-batas yang nyata atau sebuah bangunan khusus. Bahkan kemudian yang dinamakan mesjid itu adalah selalu sebuah bangunan. Di Indonesia pembatasan itu lebih sempit lagi, dan mesjid itu adalah khusus tempat orang melakukan sholat Al-Jum’ah. Adapun tempat sembahyang lima waktu yang dilakukan sehari-hari dinamakan surau atau langgar (Soekmono, 1985 : 75).

Sekalipun mesjid menurut anggapan muslim dewasa ini adalah tempat sembahyang, nyatanya ia tidak memonopoli tugas tempat itu. Tempat sembahyang adalah fungsi kedua dari gedung masjid, karena jagat di luar mesjid adalah luas sekali yang berfungsi sebagai mesjid dan tidak perlu didirikan dahulu seperti bangunan masjid. Mesjid bukan hanya sekedar tempat shalat. Dasar – dasar fungsi mesjid telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Pada mesjid pertama, mesjid Quba dan mesjid Nabi di Madinah. Mesjid digunakan sebagai pusat pembinaan jamaah dan kekuatan umat. Masjid digunakan pula sebagai tempat musyawarah tentang berbagai masalah yang sama – sama dihadapi (Sidi Gazalba 1986 : 120).

Di Indonesia ternyata fungsi masjid dapat dijadikan suatu lembaga pendidikan Islam yang pertama. Hal ini diungkap oleh H. Danasaputra dimana fungsi mesjid / langgar merupakan pengajaran agama permulaan. Di Mesjid mula – mula diajarkan abjad Arab, kemudian mengeja ayat–ayat Al-Qur’an pertama dengan irama suara tertentu. Hal ini berlangsung tidak terbatas, biasanya berlangsung sampai seseorang dapat membaca Al-Qur’an dengan fasih dan sampai dapat membaca Al-Qur’an secara keseluruhan sebanyak 30 Juz (Danasaputra , tt : 112)

Di mesjid ternyata tidak banyak biaya yang dikeluarkan untuk belajar agama Islam dan sebagai lembaga sosial mesjid / langgar itu penting artinya, bagi anak – anak masyarakat akan fungsi dari mesjid tersebut. Pembangunan masjid termasuk disyariatkan baik dikampung atau dimana saja. Hal ini agar penduduk memperoleh fadillah beribadah di mesjid. Rasulullah bersabda :

Artinya : “Dari Usman bin Affan aku mendengar Rasulullah SAW. Bersabda barang siapa yang membangun mesjid karena Allah, dia hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah akan membangunkan rumah baginya di Syurga”. (HR. Bukhori Muslim dari Ustaman Fiqih Sunnah 1 : 208). (Firdaus 2002 : 91).

Bangunan masjid pertama di Indonesia adalah jenis mesjid yang sejajar dan terkenal dengan mesjid desa atau kampung. Waktu penduduk desa memeluk Islam maka didirikanlah masjid. Atau seorang ulama yang diam mengajar di desa, mendirikan mesjid yang merupakan lembaga untuk menarik penduduk masuk Islam. Apabila desa berkembang menjadi kota dirikanlah mesjid raya. (Sidi Gazalba 1986 : 260).

Dari mesjid-mesjid yang berkembang di Indonesia tidak luput meniru bangunan-bangunan mesjid-mesjid yang berkembang di timur tengah. Beberapa hal yang menjadai ciri-ciri mesjid-mesjid di Indonesia yaitu :

Pertama adalah atapnya, yaitu atap yang melingkupi ruang bujur sangkar. Kubah sebagai atap mesjid, yang boleh dikatakan menjadi ciri dari seni bangunan Islam, tidak terdapat disini. Adapun atapnya itu berupa “atap tumpang” yaitu atap yang bersusun, semakin ke atas semakin kecil, sedangkan tingkatan yang paling atas berbentuk limas. Jumlah tumpang itu selalu ganjil biasanya tiga dan ada juga kalanya sampai lima seperti pada mesjid di Banten. Sekali-sekali ada pula yang tumpangnya dua, tetapi yang demikian itu dinamakan tumpang satu. Akhirnya atap mesjid atau surau itu biasanya masih diberi lagi sebuah kemucak dari tanah bakar atau benda lainnya, yang seakan-akan lebih lagi memberi tekanan akan keruncingannya. Penutup puncak itu dinamakan “Mustaka”.

Kedua yang menarik perhatian dari mesjid Indonesia, pada mulanya tidak adanya Menara, tempat muaddin menyerukan adzannya pada tiap kali tiba saatnya untuk melakukan sholat. Di Indonesia pemberian waktu sholat itu, disamping seruan adzan, dilakukan dengan pemukulan bedug. Meskipun menara itu bukan bagian mesjid yang harus ada, namun dalam seni bangunan Islam selalu memberikan tambahan yang memberi keindahan.

Hal yang ketiga yang menarik perhatian adalah mengenai letak dari mesjid-mesjid itu. Di ibu kota kerajaan atau tempat-tempat kedudukan seorang Adipati, mesjid itu bisa didirikan sedekat mungkin dengan istana. Di sebelah utara atau selatan istana terdapat tanah lapang atau alun-alun, dan mesjid itu didirikan pada tepi barat alun-alun. Hal ini mempunyai maksud tertentu. Kalau alun-alun adalah tempat bertemunya – meskipun secara tidak langsung – sang raja dengan rakyatnya, maka mesjid adalah tempat “bersatunya” raja dengan rakyat sebagai makhluk Illahi. Disini mereka bersama-sama melakukan kewajiban mereka, dibawah sang Imam. Dalam hal ini letak sebuah mesjid, berlangsung pula unsur yang lama yaitu bahwa di alun-alunlah raja itu akan bertemu dengan rakyatnya (Soekmono, 1985 : 75-78).

Dalam sejarah Islam mesjid memainkan peranan penting dalam pembinaan ummat Islam. Mesjid yang didirikan selalu dilengkapi dengan perpustakaan dan disediakan pula guru-guru yang siap mengajarkan pengetahuan di berbagai bidang. Mesjid selain sebagai pusat kegiatan ibadah, juga tempat memberikan pelajaran agama dan pengetahuan kemasyarakatan. Bahkan pada permulaan Islam, mesjid berfungsi sebagai balai pertemuan, antara lain untuk tempat peradilan, tempat berkumpul dan mengatur strategi dan tempat menerima duta-duta dari luar negeri (BKM Pusat, 1993/1994 : 4).

DAFTAR BACAAN :

Abd. Mutholib dkk “Materi Pokok Sejarah Kebudayaan Islam I” Universitas Terbuka Jakarta. 1998

Depag “Sketsa kehidupan beragama di Indonesia 1998 – 1999” Jakarta 1999

Deliar Noer “ Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 – 1942 “ LP3ES 1982, Jakarta

Dadan Wildan “ Sejarah Perjuangan Persis 1923 – 1983” Gema Syahida Bandung, 1995

Nasrudin Razak “ Dienul Islam “ Al Maarif Bandung 1973

Haris Firdaus “ Generasi Muda Islam Diambang Kehancuran dan Upaya Mengantisipasinya “ Mujahid Press Bandung, 2002

Winarno Surakhmad “ Pengantar Penelitian Ilmiah “ TARSITO Bandung, 1994

Soekmono “ Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3 “ Kani Sius Yogyakarta 185

Sidi Gozalba “ Mesjid Pusat Ibadan dan Kebudayaan Islam “ Pustaka Al Husna Jakarta

Zakiah Darajat dkk “ Materi Pokok Pendidikan Agama Islam “ Universitas Terbuka Jakarta 1994

Senin, 29 Maret 2010

Pendidikan prasekolah sangat penting artinya, bukan hanya sebagai pengisi waktu anak saja, tetapi juga untuk mempersiapkan anak di masa mendatang. Banyak para tokoh yang mengakui tentang pentingnya pendidikan prasekolah atau pendidikan anak usia dini. Hal ini didasarkan pada berbagai hasil penelitian dan percobaan yang telah dilakukan oleh berbagai kalangan, ternyata pendidikan anak usia dini sangat berarti dalam pembentukan pribadi anak.

Perkembangan fisik anak merupakan dasar bagi perkembangan berikutnya. Dengan meningkatnya perkembangan tubuh, baik ukuran berat dan tinggi maupun kekuatannya memungkinkan anak untuk dapat mengembangkan keterampilan fisiknya dan eksplorasi terhadap lingkungannya tanpa bantuan orang tua dan orang lain di sekitarnya.

Guru adalah pihak utama yang langsung berhubungan dengan anak dalam upaya proses pembelajaran, peran guru itu tidak terlepas dari keberadaan kurikulum. Tetapi menurut Brenner (1990) sebenarnya pendidikan anak prasekolah terefleksi dalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, serta bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55).

Dalam buku Psikologi Umum dan Perkembangan (Akyas Azhari, Daras. Hal:75) Menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi proses belajar ada dua macam yaitu:

a. Faktor internal, yaitu hambatan-hambatan terhadap seseorang yang berasal dari dalam dirinya sendiri seperti keadaan fisik (kesehatan, kondisi alat indera, dan sebagainya.) dan keadaan psikis seperti intelegensi, minat, motivasi, kognitif dan sebagainya.

b. Faktor eksternal, yaitu hambatan-hambatan yang datang dari luar dan biasanya berkaitan dengan latar belakang seseorang seperti, keadaan sosial (latar belakang keluarga, masyarakat, teman-teman pergaulan dan sebagainya), keadaan nonsosial (suhu udara, pencahayaan, penggunaan teknologi, dan sebagainya).

Sedangkan yang mempengaruhi belajar para ahli telah mengemukakan faktor-faktor hasil belajar seseorang. Faktor-faktor yang mereka kemukakan cukup beragam, tapi pada dasarnya dapat dikategorikan kedalam dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri anak dan faktor yang datang dari luar diri anak atau faktor lingkungan. Faktor lain yang mempengaruhi proses belajar terutama bagi anak adalah faktor keluarga dan lingkungan, faktor media elektronik dan lain-lain (Pusat Perbukuan, Dengan Buku Jelajahi Dunia. DEPDIKNAS. Hal: 22).

Faktor yang datang dari diri anak terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan anak besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping kemampuan, faktor lain yang juga mempunyai kontribusi terhadap hasil belajar seseorang ialah motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, faktor fisik dan faktor psikis. Adanya pengaruh dari dalam diri anak merupakan hal yang logis jika dilihat bahwa perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang disadarinya. Jadi, sejauh mana usaha anak untuk mengkondisikan dirinya bagi perbuatan belajar, sejauh itu pula hasil belajar akan ia capai.

Meskipun demikian, hasil belajar yang dicapai oleh anak masih dipengaruhi oleh faktor yang datang dari luar dirinya, yang disebut lingkungan. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah ialah kualitas pengajaran yang dikelola oleh guru. Hasil belajar pada hakikatnya tersirat dalam tujuan pengajaran. Oleh sebab itu, hasil belajar di sekolah dipengaruhi oleh kapasitas anak dan kulitas pengajaran. (Metodologi Pendidikan Agama Islam, Departemen Agama RI. Jakarta).

Secara umum salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar adalah guru. Guru adalah variabel bebas yang diduga mempengaruhi kualitas pembelajaran. Cukup beralasan mengapa guru mempunyai pengaruh dominan terhadap kualitas pembelajaran, atau meneger sekaligus pelaksana pengajaran. Kompetensi profesional yang dimiliki guru sangat dominan mempengaruhi kualitas pengajaran. Kompetensi dimaksud ialah kemampuan dasar yang dimiliki guru, baik di bidang kognitif (intelektual) seperti penguasaan bahan, bidang sikap seperti mencintai profesinya, dan bidang perilaku seperi keterampilan mengajar, menilai hasil belajar pelajar dan lain-lain. (Metodologi Pendidikan Agama Islam, Departemen Agama RI. Jakarta).

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Pasal 27 ayat (3) dikemukakan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang khusus diangkat dengan tugas utama mengajar. Disamping itu, ia mempunyai tugas lain yang bersifat pendukung, yang membimbing dan mengelola administrasi sekolah. Tiga tugas ini mewujudkan tiga layanan yang harus diberikan guru kepada peserta didik dan tiga peranan yang harus dijalankannya. Tiga layanan dimaksud ialah:

a. layanan intruksional

b. layanan bantuan (bimbingan dan konseling)

c. layanan administrasi.

Adapun tiga peranan guru ialah:

a. sebagai pengajar

b. sebagai pembimbing

c. sebagai administrator kelas.

Sebagai pengajar, guru mempunyai tugas menyelenggarakan proses belajar mengajar. Tugas yang mengisi porsi terbesar dari profesi keguruan ini pada garis besarnya meliputi empat pokok, yaitu:

a. menguasai bahan pengajaran

b. merencanakan program belajar mengajar

c. melaksanakan, memimpin, dan mengelola proses belajar mengajar

d. menilai kegiatan belajar mengajar.

Sebagai pembimbing, guru mempunyai tugas memberi bimbingan kepada peserta didik dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, sebab proses belajar peserta didik berkaitan erat dengan berbagai masalah di luar kelas yang sifatnya non akademis.

Tugas guru sebagai administrator mencakup ketatalaksanaan bidang pengajaran dan ketatalaksanaan pada umumnya seperti mengelola sekolah, memanfaatkan prosedur dan mekanisme pengelolaan tersebut untuk melancarkan tugasnya, serta bertindak sesuai dengan etika jabatan.

Peran dan pengaruh guru sangat besar terhadap kemauan dan kemampuan belajar siswa. Guru merupakan motivator siswa untuk membaca. Guru yang rajin membaca akan menjadi inspirator bagi siswa dan akan menggerakan siswa untuk menirunya. Sebaliknya, guru yang malas membaca akan membuat siswa tidak menaruh hormat bahkan akan meremehkan guru tersebut. Dari cara bicara dan penampilan, akan terlihat seorang guru yang berwawasan luas atau tidak.

Di Indonesia pembelajaran pendidikan prasekolah lebih bersifat akademik, di mana anak lebih banyak duduk di bangku dan harus tertib seperti di sekolah. Jarang guru memberikan kesempatan kepada anak untuk berksplorasi, mengekspresikan perasaannya, dan melakukan sendiri apa yang mereka minati, sampai menemukan pemecahan masalah sendiri.

Ada beberapa pendekatan peran guru dalam pembelajaran, antara lain :

1. Guru berperan sebagai pengajar

Dalam hal ini guru harus mengajar sesuai dengan kurikulum tanpa melihat minat anak. Semua anak dianggap botol kosong yang harus diisi oleh berbagai informasi tanpa melihat perbedaan bahkan meski anak tidak berminat pun guru harus tetap menyampaikan apa yang sudah dugariskan dalam kurikulum tersebut.

2. Guru berperan membelajarkan anak

Pada pendekatan ini guru berpegang pada panduan kemampuan yang akan dicapai anak dengan cara memahami minat, perasaan dan pengalaman anak. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pengalaman, perasaannya melalui berbagai interaksi kepada guru maupun teman sebaya. Dalam hal ini anak dapat dengan leluasa mengekspresikan apa saja yanga ada dalam pikirannya

Pendekatan semacam ini merupakan pendekatan yang efektif dan terbaik karena anak dapat berkembang secara utuh (Tini Sumartini, 2005 :47)


Daftar Bacaan :

Drs. M. Solehuddin, M.Pd., MA. (1997) Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, Depdikbuk. IKP Bandung.

Dra. Jojoh Nurdiana, dkk.(2005) Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, materi Penataran Tertulis Program Terakreditasi Guru TK, Bandung

Tini Sumartini, S.Pd. (2006). Perkembangan Belajar Anak Usia Prasekolah, Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis, Bandung

Departemen Agama RI, (2001) Metodologi Pendidikan Agama Islam.

Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Jakarta.

Departemen Agama RI Integrasi Hidup (Life Skill) Dalam pembelajaran. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional Membenahi Buku Teks Pelajaran.

DEPDIKNAS, Jakarta.


Minggu, 28 Maret 2010

Pendidikan Islam merupakan kegiatan dan upaya penyadaran diri terhadap peserta didik yang harus diwariskan dari generasi pendahulunya, sebut saja orang tua. Telah lama pendidikan ini diselenggarakan baik secara resmi dalam sekolah maupun tidak resmi di luar sekolah, lalu mungkin membicarakan dengan pihak lain dan merencanakannya. Upaya dilanjutkan dengan merealisasikannya dan mengevaluasinya secara cermat agar mendapat hasil yang maksimal
Apabila dipelajari sejarah pendidikan Indonesia jauh ke masa lampau, akan sampai kepada penemuan dalam sejarah bahwa pondok pesantren salah satu bentuk “ Indegenous Cultura” atau bentuk kebudayaan asli bangsa Indonesia, sebab lembaga pendidikan dengan pola Kyai, murid, dan asrama, telah dikenal dalam kisah dan cerita rakyat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa
Islam mengajarkan bahwa perjalanan atau kewajiban mencari ilmu tidak ada ujung akhirnya. Islam adalah agama dakwah, Islam tidak memusuhi, Islam tidak menindas unsur-unsur fitrah. Islam mengakui adanya hak dan wujud jasa, nafsu, akal, dan rasa, dengan fungsinya masing-masing. Islam memanggil pancaindera, menggugah akal dan kalbu, menyambung jangkauan untuk hal-hal yang tidak tercapai oleh mereka sendiri, sehingga manusia tidak lagi meraba ke sana-sini dan terus salah meraba mencari Tuhannya.
Kedudukan pondok pesantren tidak dapat dipisahkan dari kehidupan ummat Islam Indonesia. Lembaga pendidikan tertua ini sudah dikenal semenjak agama Islam masuk ke Indonesia. Sejarah pondok pesantren merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah pertumbuhan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan bahwa semenjak kurun waktu Kerajaan Islam pertama di Aceh dalam abad-abad pertama Hijriyah, kemudian di kurun waktu Wali Sanga sampai permulaan Abad ke-20 banyak para Wali dan ulama yang menjadi cikal bakal desa baru. Pengakuan masyarakat atau jamaah di sekelilingnya atas kehadiran orang di sekelilingnya atas kehadiran seorang Kyai atau ulama adalah merupakan modal dasar bagi berdirinya suatu pondok pesantren inilah kelak terbentuklah suatu masyarakat Desa baru. Dalam sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia kedudukan pondok pesantren selalu berada di depan (Sofwan Manaf, 2001:15).
Sebagai satu jenis kegiatan yang amat menentukan corak masa depan, maka pendidikan Islam harus dapat diselenggarakan secara jelas, tertib dan mantap. Pendidikan tidak pernah tidak diperlukan terutama untuk masa-masa mendatang. Namun kita semua faham bahwa pendidikan yang dimaksud bukan saja pendidikan jalur sekolah tetapi juga jalur non sekolah. Selama ini banyak penanggungjawab pendidikan yang merasa cukup dengan memberikan perhatian besar hanya kepada pendidikan sekolah, sementara pendidikan jalur non sekolah terabaikan.
Berbeda dengan lembaga pendidikan yang lain pada umumnya menyatakan tujuan pendidikannya dengan jelas, misalnya dirumuskan dalam anggaran dasar, maka pesantren terutama pesantren-pesantren lama pada umumnya tidak merumuskan secara eksplisit dasar dan tujuan pendidikannya. Hal ini terbawa oleh sifat kesederhanaan pesantren yang sesuai dengan dorongan berdirinya di mana seorang Kyainya mengajar dan santrinya belajar, semata-mata adalah untuk “ibadah” dan tidak pernah dihubungkan dengan tujuan-tujuan tertentu dalam lapangan penghidupan atau tingkat dan jabatan tertentu dalam hirarki sosial atau birokrasi kepegawaian. Karenanya untuk mengetahui tujuan dari pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren, maka jalan yang harus ditempuh adalah jalan dengan pemahaman terhadap fungsi-fungsi yang dilaksanakan dan dikembangkan oleh pesantren itu sendiri, baik dalam hubungan nya dengan para santri maupun dengan masyarakat di sekitarnya sekitarnya (Kafrawi, 1978 : 43).
Hal senada juga diungkapkan oleh Sofwan Manaf (2001 : 18), sebagai berikut :
Rata-rata pesantren, dengan tipe apapun, tidak memiliki rencana induk pengembangan secara tertulis. Kalaupun ada kebanyakan rencana induk tersebut tersimpan dalam fikiran pendiri atau pengasuhnya. Faktor penyebabnya banyak, antara lain pembuatan pola atau perencanaan kegiatan berjangka panjang belum menjadi tradisi dalam kelembagaan pesantren. Hal ini terjadi karena adanya pertimbangan praktis dari para pengasuh ; dengan pengelolaan secara sederhana, maka lembaga pendidikan yang diasuh sudah bisa berkembang. Dengan kata lain, kegiatan manajemen belum dipandang sebagai suatu kebutuhan penting bagi pengembangan pesantren.

Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional, di mana para siswanya tinggal bersama dan di bawah bimbingan seorang guru atau lebih, yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai. Asrama untuk para siswa itu berada dalam lingkungan komplek pesantren di mana Kyai bertempat tinggal. Komplek pesantren ini
biasanya dikelilingi dengan tembok untuk dapat mengawasi keluar dan masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Dalam lingkungan fisik yang demikian ini, diciptakan semacam cara kehidupan yang memiliki sifat dan ciri tersendiri dimulai dengan jadwal kegiatan yang memang menyimpang dari pengertian rutin kegiatan masyarakat sekitarnya. Dimensi waktu yang bercorak tersendiri ini juga terlihat pada lamanya masa belajar di pesantren ; selama seorang santri merasa masih memerlukan bimbingan pengajian dari Kyainya, selama itu pula ia tidak merasakan adanya keharusan menyelesaikan masa belajarnya di pesantren. Dengan demikian sebenarnya tidak terdapat ukuran tertentu mengenai lamanya masa belajar di pesantren, karena penentuannya diserahkan kepada santri sendiri, sehingga seringkali ukuran satu-satunya yang dipergunakan adalah biaya yang tersdia atau panggilan orang tua untuk menikah dan berumah tangga. ( Abdurrahman Wahid, 1399 H. : 12).
Selama ini orang sering membuat kategori pesantren Indonesia secara sederhana ke dalam dua bentuk, yaitu pesantren salaf dan modern. Pesantren salaf sering juga diidentikkan dengan pesantren tradisional, sehingga pesantren yang tidak tergolong salaf, dikategorikan sebagai pesantren modern. Kategori semacam itu sebenarnya terlalu simplistik, sebab tipologi pesantren yang ada selama ini menampakkan berbagai variasi dari salaf dan non-salaf. Penyebutan salaf dan non-salaf sebetulnya tidak memadai lagi, sebab pada perkembangan pesantren selama ini, banyak terjadi perubahan yang mengakibatkan munculnya antara tradisional dan modern pada diri pesantren (Sofwan Manaf, 2001 : 18).


Sumber-sumber :

Adi Sasono. (1998), Solusi Islam atas Problematika Umat (Ekonomi, Pendidikan dan Dakwah ), Gema Insani Press, Jakarta.

Abdurrahman Saleh (1980), Penyelenggaraan Madrasah (Petunjuk Pelaksanaan Administrasi dan Teknis Pendidikan, Dharma Bhakti, Jakarta.

Abdurrahman Wahid, (1399 H.), Bunga Rampai Pesantren, CV. Dharma Bhakti Jakarta.

Sofwan Manaf, (2001), Pola Manajemen Penyelenggaraan Pondok Pesantren. Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI.

Tabrani Rusyan A. (1992), Pendidikan Masa Kini dan Mendatang Bina Mulia, Jakarta.

Thohir Luth (1999), M. Natsir, Dakwaah dan Pemikirannya, Gema Insani Press, Jakarta.

Wahjoetomo, (1997), Perguruan Tinggi Pesantren Pendidikan Alternatif Masa Depan, Gema Insani Press, Jakarta.

Yacub. H.M (1985), Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyarakat Desa, Angkasa, Bandung.

Zamakhsyari Dhofier, (1982), Tradisi Pesantren, Lembaga Penelitian dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP 3 ES), Jakarta.