Selasa, 20 Maret 2012

Metode Pengajaran IPS
1. Dewasa ini telah terjadi perubahan dalam dunia pendidikan, yaitu proses pembelajaran tidak sekedar menstransfer pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan siswa harus menemukan sendiri pengetahuannya sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
2. Untuk menciptakan kualitas pembelajaran yang berkualitas, guru harus menciptakan kondisi pembelajaran yang menantang, menyenangkan, mendorong eksplorasi, memberi pengalaman sukses, dan mengembangkan berpikir siswa
3. Pembelajaran berkualitas dapat terwujud apabila guru tepat dalam memilih metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
4. Guru dituntut untuk menguasai berbagai macam metode pembelajaran untuk menciptakan kondisi belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.
5. Efektif tidaknya suatu metode ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya tujuan, bahan, siswa, kemampuan guru, alokasi waktu.

Metode Karyawisata
Suryobroto(1986:51) memberi batasan karyawisata sebagai kegiatan belajar mengajar dengan mengunjungi obyek yang sebenarnya yang ada hubungannya dengan pelajaran tertentu. Sedangkan menurut Nursid Sumaatmadja (1980:113), menyatakan bahwa karyawisata adalah suatu kunjungan ke obyek tertentu di luar lingkungan sekolah, di bawah bimbingan guru IPS, yang bertujuan untuk mencapai tujuan instruksional tertentu.
Sehubungan dengan hal tersebut metode karyawisata dapat dilaksanakan dengan mengadakan perjalanan dan kunjungan yang hanya beberapa jam saja ke tempat atau daerah yang tidak begitu jauh dari sekolah, asalkan maksudnya memenuhi tujuan instruksional IPS.
Jadi jangan terlalu membayangkan bahwa metode karyawisata itu harus dilaksanakan dengan menempuh suatu perjalanan yang jauh, menggunakan waktu berhari-hari, dan menghabiskan biaya yang besar. Inilah hakekat karyawisata dalam pengajaran IPS yang berbeda dengan wisata atau tamasya.
Seorang guru dapat menerapkan metode karyawisata dengan terarah dan sesuai dengan tujuan instruksinalnya, apabila guru memperhatikan hal-hal seperti tersebut dibawah ini:
a. Mengetahui hakikat metode karyawisata.
b. Mengetahui kelebihan dan kelemahan metode karyawisata.
c. Mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum pelaksanaannya.
d. Mempunyai keterampilan memilih pokok-pokok bahasan yang cocok dikembangkan dengan metode karyawisata.
Selain itu guru juga harus memperhatikan keadaan siswa yang akan terlibat dalam proses belajar mengajar, bahwa:
a. Siswa memiliki dorongan minat dan perhatian terhadap apa yang sedang dipelajari (sense of interest ).
b. Siswa memiliki dorongan untuk melihat kenyataan (sense of reality ).
c. Siswa memiliki dorongan untuk menemukan sendiri hal-hal yang menarik perhatiannya ( sense of discovery ).
Ketiga hakikat naluriah yang ada pada diri siswa tersebut di atas harus mandapat perhatian guru, untuk selanjutnya dibina dan dikembangkan pada pengajaran IPS. Dalam melaksanakan metode karyawisata harus tetap diusahakan mengembangkan minat siswa yang dilibatkan. Dari minat siswa yang tinggi tersebut, kita arahkan mereka untuk mencocokkan hal-hal yang mereka peroleh di dalam kelas dengan kenyataan yang dijumpai di masyarakat.
Selanjutnya melalui proses berikutnya siswa akan mampu menemukan sendiri gejala-gejala dan masalah-masalah yang menjadi pokok bahasan di kelas pada kenyataan praktisnya di masyarakat atau di lapangan. Proses pengembangan dan pemantapan sense of discovery inilah yang akan membantu siswa menjadi seorang peneliti.
a. Fungsi Metode Karyawisata
1) Mendekatkan dunia sekolah dengan kenyataan.
2) Mempelajari suatu konsep atau teori dengan kenyataan dan sebaliknya.
3) Membekali pengalaman riil pada siswa.
b. Langkah-langkah Metode Karyawisata
Untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan metode karyawisata, tahap-tahap pelaksanaannya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Tahap persiapan
Meliputi persiapan materi atau topik karyawisata, persiapan teoritis, persiapan perlengkapan, dan aspek-aspek lain yang menunjang pelaksanaan karyawisata.
2) Tahap pelaksanaan karyawisata di lapangan
Jika tahap persiapan telah matang dan terperinci, maka tahap pelaksanaan akan berjalan lancar. Tahap pelaksanaan ini secara ketat harus tetap berlandaskan pada perencanaan, misalnya rencana dan tujuannya.
3) Tindak lanjutnya pelaksanaan karyawisata (setelah kembali ke tempat) Kegiatannya meliputi penyusunan dan membuat laporan hasil karyawisata.
c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Karyawisata
Kelebihan Metode Karyawisata
1) Siswa dapat mengamati obyek secara nyata dan bervariasi, seperti peninggalan sejarah, pasar, pantai, pabrik, kalurahan, kecamatan.
2) Siswa dapat menjawab dan memecahkan masalah-masalah dengan cara melihat, mencoba, dan membuktikan secara langsung suatu obyek yang dipelajari.
3) Siswa dapat pula mendapatkan informasi langsung dari nara sumber ataupun dapat penjelasan langsung dari manajer pabrik.
Kelemahan Metode Karyawisata
1) Jika terlalu sering dilaksanakan akan mengganggu rencana pelajaran.
2) Perlu pengawasan dan bimbingan guru.
3) Jika obyek yang akan dikunjungi terlalu jauh letaknya, menyulitkan transportasi dan pembiayaan.
4) Jika pelaksanaan karyawisata terlalu kaku sifatnya, dapat menurunkan minat siswa terhadap karyawisata, sehingga tujuannya tidak tercapai.
Media Pembelajaran IPS di SD

1. Media sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar dari yang bersifat sederhana sampai yang canggih, karena media merupakan alat Bantu mengajar.
2. Media berfungsi sebagai alat yang membantu mencapai tujuan yang sudah direncanakan.
3. Media pembelajaran adalah segala alat bantu yang dapat memperlancar keberhasilan mengajar. Oleh karena itu penggunaan media pembelajaran harus dirancang, disiapkan, dipilih, dan disusun secara cermat sesuai dengan tujuan instruksional yang hendak dicapai.
4. Fungsi media dalam kegiatan belajar mengajar tidak lagi dipandang sebagai alat bantu yang digunakan apabila perlu atau sekedar selingan, tetapi sudah dipandang sebagai komponen dari sistem instruksional.
Dengan kata lain bahwa media berfungsi membawa pesan/informasi atau pesan pembelajaran yang sangat dibutuhkan oleh siswa.
5. Dalam pembelajaran IPS digunakan media yang banyak sekali macamnya. Selain itu terdapat pula cara mengklasifikasikan media pembelajaran atas dasar kategori-kategori tertentu.
6. Karena banyaknya media pengajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPS, maka seorang guru harus menguasai teknik memilih media. Dalam memilih media hendaknya memperhatikan faktor-faktor:
kemampuan siswa, tujuan penggunaan, isi media, keanekaragaman media, waktu, tenaga, dan biaya.

Selasa, 13 Maret 2012

Ruang Lingkup IPS Sebagai Program Pendidikan

Kehidupan manusia di masyarakat atau manusia dalam konteks sosial yang menjadi ruang lingkup IPS, merupakan cakupan yang sangat luas. Oleh karena itu, pada proses pembelajarannya harus dilakukan bertahap-berkesinambungan sesuai dengan perkembangan kemampuan peserta didik dan lingkup objek formal IPS. Untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS yang optimum, empat hal yang meliputi dasar mental-psikologis yang melekat pada diri peserta didik, pengetahuan sosial yang secara spontan telah dimiliki oleh mereka, ruang lingkup IPS yang sangat luas, dan nilai-nilai yang melekat pada pendidikan IPS wajib menjadi pegangan pada proses pelaksanaannya. Proses pembelajaran IPS yang komprehensif, dilandasi oleh empat hal seperti dikemukakan tadi.

Pembinaan dan pengembangan minat peserta didik, penguasaan materi IPS yang memadai oleh guru, dan “penciptaan” suasana interaksi edukatif yang serasi pada proses pembelajaran IPS, merupakan salah satu modal yang strategis mencapai tujuan instruksionalnya. Dalam proses pembelajaran IPS, ragam pendekatan dan metode yang diterapkan disesuaikan dengan kondisi lingkup masyarakat serta aspek kehidupan sosial yang menjadi pokok bahasan. Keragaman pendekatan dan metode yang diterapkan pada proses pembelajaran IPS, dapat mempertahankan suasana yang tetap hangat dan menarik, sehingga para peserta didik tidak dihinggapi kejenuhan dan kebosanan. Pendidikan IPS yang dilandasi oleh nilai-nilai, khususnya nilai filsafat, dan Ketuhanan, pada proses pembelajarannya dapat memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan pengamalan Pancasila.
PENGERTIAN DAN HAKIKAT IPS
DALAM PROGRAM PENDIDIKAN
S. P. Taneo

Hakikat perkembangan seseorang mulai saat ia lahir sampai menjadi dewasa,
tidak dapat terlepas dari masyarakat. Oleh karena itu pengetahuan sosial dapat
dikatakan tidak asing bagi tiap orang. Kehidupan sosial manusia di masyarakat
beraspek majemuk yang meliputi aspek hubungan sosial, ekonomi, psikologi,
budaya, sejarah, geografi dan politik. Karena tiap aspek kehidupan sosial itu
mencakup lingkup yang luas, untuk mempelajari dan mengkajinya menuntut bidang
ilmu-ilmu yang khusus. Melalui ilmu-ilmu sosial dikembangkan bidang-bidang ilmu
tertentu sesuai dengan aspek kehidupan sosial masing-masing. IPS sebagai bidang
pendidikan tidak hanya membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan sosial,
melainkan lebih jauh daripada itu berupaya membina dan mengembangkan mereka
menjadi SDM Indonesia yang berketerampilan sosial dan intelektual sebagai warga
negara yang memiliki perhatian serta kepedulian sosial yang bertanggung jawab
merealisasikan tujuan nasional. Kehidupan di masyarakat dan bermasyarakat yang
terus berkembang, menjadi landasan bagi pengembangan IPS sebagai bidang
pendidikan sesuai dengan tuntutan perubahan serta kemajuan kehidupan tersebut.
IPS merupakan bidang studi baru, sebab baru dikenal sejak diberlakukannya
kurikulum 1975. Dikatakan baru karena cara pandangnya bersifat terpadu. Artinya
bahwa IPS merupakan perpaduan dari sejumlah mata pelajaran-mata pelajaran
tersebut mempunyai kajian yang sama, yaitu manusia.
Bidang studi IPS berasal dari Negara Amerika Serikat dengan nama aslinya
Social Studies. Latar belakang dimasukkannya IPS ke dalam kurikulum sekolah
karena munculnya masalah-masalah nasional sebagai akibat peristiwa G30S/PKI,
salah satu masalah tersebut adalah rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
Pemerintah melakukan pembaharuan kurikulum, yaitu pendidikan dasar menjadi 8
tahun, penggabungan bidang studi yang serumpun, dan sistem kredit. Tahun 1984
pemerintah memberlakukan kurikulum baru, di SD diajarkan IPS terpadu, SMP
diajarkan IPS terkait, dan SMA IPS diajarkan secara terpisah. Kurikulum 1994, IPS
SD terdiri IPS terpadu dan sejarah, IPS di SMP terdiri dari sejarah, ekonomi, dan
geografi sedangkan IPS di SMA tetap diajarkan secara terpisah.
Pendidikan IPS diperuntukkan bagi pendidikan dasar dan menengah dalam
rangka pembinaan peserta didik agar memiliki pengetahuan, sikap, dan tingkah laku
yang positif baik sebagai warga masyarakat maupun sebagai warga negara.
1-32 Unit 1
Pendidikan IPS sangat penting diberikan kepada siswa pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah, sebab siswa sebagai anggota masyarakat perlu
mengenal masyarakat dan lingkungannya. Untuk mengenal masyarakat, siswa dapat
belajar mulai dari media cetak, elektronik maupun langsung melalui pengalaman
hidupnya di tengah-tengah masyarakat.
Dengan pengajaran IPS diharapkan siswa dapat memperoleh pengetahuan,
keterampilan, sikap dan kepekaan untuk menghadapi hidup beserta tantangantantangannya.
Selanjutnya mereka diharapkan mampu bertindak secara rasional
dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan.

Senin, 05 Maret 2012

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN IPS SD

Bidang studi IPS merupakan gabungan ilmu-ilmu sosial yang terintegrasi atau terpadu. Pengertian terpadu, bahwa bahan atau materi IPS diambil dari Ilmu-ilmu Sosial yang dipadukan dan tidak terpisah-pisah dalam kotak disiplin ilmu (Lili M Sadeli, 1986 : 21). Karena IPS terdiri dari disiplin Ilmu-ilmu Sosial, dapat dikatakan bahwa IPS itu mempunyai ciri-ciri khusus atau karakterisitik tersendiri yang berbeda dengan bidang studi lainnya.
Untuk membahas karakteristik IPS, dapat dilihat dari berbagai pandangan. Berikut ini dikemukakan karakteristik IPS dilihat dari materi dan strategi penyampaiannya.

1. Materi IPS
Mempelajari IPS pada hakekatnya adalah menelaah interaksi antara individu dan masyarakat dengan lingkungan (fisik dan social-budaya). Materi IPS digali dari segala aspek kehidupan praktis sehari-hari di masyarakat. Oleh karena itu, pengajaran IPS yang melupakan masyarakat sebagai sumber dan objeknya merupakan suatu bidang ilmu yang tidak berpijak pada kenyataan. (Menurut Mulyono Tjokrodikaryo, 1986:21).
Ada 5 macam sumber materi IPS antara lain:
a. Segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari keluarga, sekolah, desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan dunia dengan berbagai permasalahannya.
b. Kegiatan manusia misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, produksi, komunikasi, transportasi.
c. Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antropologi yang terdapat sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampaiyang terjauh.
d. Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang dimulai dari sejarah lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian yang besar.
e. Anak sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian, permainan, keluarga.
Dengan demikian masyarakat dan lingkungannya, selain menjadi sumber materi IPS sekaligus juga menjadi laboratoriumnya. Pengetahuan konsep, teori-teori IPS Pengembangan Pendidikan IPS SD 1 – 27 yang diperoleh anak di dalam kelas dapat dicocokkan dan dicobakan sekaligus diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat.

2. Strategi Penyampaian Pengajaran IPS
Strategi penyampaian pengajaran IPS, sebagaian besar adalah didasarkan pada suatu tradisi, yaitu materi disusun dalam urutan: anak (diri sendiri), keluarga, masyarakat/tetangga, kota, region, negara, dan dunia. Tipe kurikulum seperti ini disebut “The Wedining Horizon or Expanding Enviroment Curriculum” (Mukminan, 1996:5).
Tipe kurikulum tersebut, didasarkan pada asumsi bahwa anak pertama-tamadikenalkan atau perlu memperoleh konsep yang berhubungan dengan lingkungan terdekat atau diri sendiri. Selanjutnya secara bertahap dan sistematis bergerak dalam lingkungan konsentrasi keluar dari lingkaran tersebut, kemudian mengembangkan kemampuannya untuk menghadapai unsur-unsur dunia yang lebih luas.

Karakteristik Siswa Sekolah Dasar
Setelah Anda mengenal karakteristik pendidikan IPS SD, bagaimana pembelajarannya kepada siswa SD? Pengenalan dan pemahaman terhadap sifat-sifat siswa tidak kalah pentingnya bagi guru, karena dengan memahami sifat-sifat siswa tersebut guru dapat menyusun, merencanakan, dan melaksanakan pembelajaran IPS dengan baik. Di Indonesia pada saat ini, anak usia SD dimulai dari 6 tahun sampai dengan 12 tahun. Secara psikologis, periode ini diktegorikan Masa Kanak-kanak Akhir. Para pendidik masa tersebut sebagai “Masa Sekolah Dasar” sedangkan para psikolog menyebutnya sebagai “Masa Berkelompok” atau “Masa Penyesuaian Diri”
Sebutan Masa Sekolah Dasar, merupakan periode keserasian bersekolah, artinya anak sudah matang untuk besekolah. Adapun kriteria keserasian bersekolah adalah sebagai berikut.
1. Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan teman-teman sebaya, tidak boleh tergantung pada ibu, ayah atau anggota keluarga lain yang dikenalnya.
2. Anak memiliki kemampuan sineik-analitik, artinya dapat mengenal bagianbagian dari keseluruhannya, dan dapat menyatukan kembali bagian-bagian tersebut.
3. Secara jasmaniah anak sudah mencapai bentuk anak sekolah

Sementara itu sebutan Masa berkelompok dan Masa Penyesuaian Diri dikaitkan dengan keinginan anak-anak untuk diterima teman-teman sebayanya sebagai anggota kelompok, serta pentingnya penyesuaian diri di dalam kelompoknya. Setiap anak adalah pelajar yang unik, memiliki kepribadian singular, latar belakang pengalaman, dan cara belajar tertentu.
Menurut Preston (dalam Oemar Hamalik. 1992 : 42-44), anak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Anak merespon (menaruh perhatian) terhadap bermacam-macam aspek dari dunia sekitarnya.Anak secara spontan menaruh perhatian terhadap kejadiankejadian-peristiwa, benda-benda yang ada disekitarnya. Mereka memiliki minat yang laus dan tersebar di sekitar lingkungnnya.
2. Anak adalah seorang penyelidik, anak memiliki dorongan untuk menyelidiki dan menemukan sendiri hal-hal yang ingin mereka ketahui.
3. Anak ingin berbuat, ciri khas anak adalah selalu ingin berbuat sesuatu, mereka ingin aktif, belajar, dan berbuat
4. Anak mempunyai minat yang kuat terhadap hal-hal yang kecil atau terperinci yang seringkali kurang penting/bermakna
5. Anak kaya akan imaginasi, dorongan ini dapat dikembangkan dalam pengalaman-pengalaman seni yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS sehingga dapat memahami orang-orang di sekitarnya. Misalnya pula dapat dikembangkan dengan merumuskan hipotesis dan memecahkan masalah.
Anda sebagai guru harus memahami ciri-ciri anak tersebut dalam rangka kesiapan suatu pembelajaran. Untuk dapat menghadapi bahan belajar dengan baik, siswa dituntut menunjukkan adanya perhatian. Perhatian seseorang terhadap sesuatu dapat ditunjukkan dari gerak-geriknya.Sebagai contoh seorang guru memberi tugas kepada siswanya untuk mengamati lalu lintas di dekat sekolahnya, ternyata semua siswa tampak serius mencatat, berdiskusi dengan temannya dengan wajah ceria. Hal ini menunjukkan bahwa siswa-siswa menjalankan tugas guru dengan baik dan penuh perhatian. Tetapi jika terjadi hal yang sebaliknya, misalnya anak-anak hanya main sendiri, tidak mau mancatat dan berdiskusi, berarti siswa kurang atau tidak ada perhatian. Perhatian menjadi titik awal yang mengarah kepada belajar, perhatian merupakan prasarat dalam belajar. Dengan perhatian akan timbul ketertarikan terhadap sesuatu yang dihadapi, selanjutnya diharapkan akan terjadi peristiwa belajar.
Dengan uraian di atas berarti betapa pentingnya kedudukan perhatian dalam belajar. Kemudian bagaimana perhatian anak itu sebenarnya? Maka tidak kalah pentingnya pula Anda sebagai guru atau calon guru mengenal sifat-sifat atau karakteristik anak usia SD.
Berkaitan dengan atmosfir di sekolah, ada sejumlah karakteristik yang dapat diidentifikasi pada siswa SD berdasarkan kelas-kelas yang terdapat di SD.
1. Karakteristik pada Masa Kelas Rendah SD (Kelas 1,2, dan 3)
a. Ada hubungan kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
b. Suka memuji diri sendiri
c. Apabila tidak dapat menyelesaikan sesuatu, hal itu dianggapnya tidak penting
d. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain dalam hal yang menguntungkan dirinya
e. Suka meremehkan orang lain
2. Karakteristik pada Masa Kelas Tinggi SD (Kelas 4,5, dan 6).
a. Perhatianya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari
b. Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis
c. Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus
d. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.
Menurut Jean Piagiet, usia siswa SD (7-12 tahun) ada pada stadium operasional konkrit. Oleh karena itu guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa, misalnya penggalan waktu belajar tidak terlalu panjang, peristiwa belajar harus bervariasi, dan yang tidak kalah pentingnya sajian harus dibuat menarik bagi siswa. Hal ini dilakukan karena perhatian anak pada tingkat usia tersebut masih mudah beralih, artinya dalam jangka waktu tertentu perhatian anak dapat tertarik kepada banyak hal, tetapi waktu tertentu pula perhatian anak berpindah-pindah.
Sifat lain bahwa perhatian anak sering berfokus pada lingkungan terdekat. Kedekatan ini dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Bersifat langsung, misalnya dalam melihat pesawat terbang akan lebih tertarik pada bentuk dan warnanya dari pada fungsinya, artinya dalam memahami suatu konsep anak-anak lebih tertarik pada ujud benda konkritnya. Begitu juga pengalaman yang termediasipun akan membawa anak kepada perhatian, misalnya bahan bacaan atau ceritera, sajian TV dapat mendekatkan anak pada dunia yang lebih luas. Pada umumnya anak lebih tertarik kepada benda yang bergerak, akibatnya anak ingin mengetahui sebab-sebab terjadinya sesuatu. Rasa ingin tahu tersebut sebenarnya merupakan gerak awal untuk belajar dan dorongan untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya.Tindakan eksplorasi akan memacu anak untuk terus mencari sampai keingintahuannya terpuaskan.
Dengan sifat ini, anak biasanya mempunyai kemampuan tinggi dan mempunyai wawasan yang luas. Anak usia SD mempunyai kecenderungan banyak bergerak. Agar gerak yang merupakan kebutuhan anak mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu perencanaan yang baik. Perlu diketahui bahwa gerak tidak hanya bersifat fisik saja tetapi gerak atau keaktifan pikiran merupakan hal yang penting pula. Keaktifan berfikir dapat disertai gerak fisik dan juga disertai gerak berpikir, misalnya siswa yang sedang mencari data di lapangan memerlukan banyak gerak fisik. Sedangkan siswa yang sedang mengerjakan soal tidak perlu membaca dengan suara nyaring, tetapi ia aktif berfikir dengan tenang. Ini sebenarnya anak mengalami keaktifan mentalnya. Dengan demikian keaktifan atau pengalaman sangat bermanfaat dalam belajar. Pengalaman merupakan persiapan dalam kehidupan yang sebenarnya di masyarakat.

Glosarium
Broad-fielt = berdiri sendiri-sendiri secara terpisah, misalnya Ilmu Bumi, Sejarah, Pengetahuan Kewargaan Negara
Humaniora = ilmu pengetahuan yang mempelajari apa yang diciptakan atau diperhatiakan manusia
Interdisipliner = antar cabang ilmu pengetahuan
Monodisipliner = berkaitan/ditinjau dari satu disiplin limu pengetahuan
Multidisipliner = berkaitan dengan berbagai ilmu pengetahuan atau ditinjau dari berbagai ilmu pengetahuan
Norma = aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok di masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan kendalian tingkah laku yang sesuai
Paikem = Pembelajaran Inofativ Aktif Kreatif Efisien dan Menyenangkan
Status dan Peran Individu dalam Masyarakat

1. Masyarakat adalah, kelompok besar manusia yang relatif permanen, berinteraksi secara permanen, menganut dan menjunjung suatu sistem nilai dan kebudayaan, dan self supporting (memenuhi kebutuhan sendiri).
2. Setiap individu memiliki kedudukan (status) dan peran yang berbedabeda, setiap individu harus berperilaku dan berperan sesuai dengan kedudukannya agar diterima dan diakui keberadaannya di dalam
masyarakat. Di dalam masyarakat berlaku sanksi, tujuannya adalah untuk menjaga keutuhan, keseimbangan, dan kestabilan kelompoknya sehingga tujuan kelompoknya dapat tercapai.
3. Ada beberapa jenis peran di dalam masyarakat, antara lain:
• peran yang diharapkan (expected roles) dan peran yang terlaksana dalam kenyataan (actual roles),
• peran yang terberi (ascribed roles) dan peran yang diperjuangkan (achieved roles),
• peran kunci (key roles) dan peran tambahan (supplementary roles)
• peran tinggi, peran menengah, dan peran rendah.
4. Norma yang berlaku di dalam masyarakat mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda dari yang lemah sampai yang terkuat. Agar norma dipatuhi oleh anggota masyarakat, maka bagi yag melanggar norma dikenai sanksi. Berat ringannya sanksi disesuaikan dengan jenis pelanggarannya.
5. Pranata sosial adalah, himpunan kaidah atau sistem norma yang bertujuan menata atau mengatur pola kelakuan warga masyarakat tertentu yang lahir dari interaksi sosial yang menyangkut kedudukan dan peran sosial yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat, khususnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mendasar.

Daftar Pustaka

Bellen, dkk (1990). Materi Pokok Pendidikan IPS I. Jakarta: Dikti
Doyle Pal Johnson (1986). Tori Soilogi Klasik dan Modern (Terjemahan: Robert Lawang) Jakarta: PT Gramedia.
Gillin. Dkk. (1954). Cultura Sociologi. New York: The Macmillan Company
Koentjaraningrat. (2000). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
---------------.(1971). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
---------------. (1964). Masyarakat Desa di Indonesia Masa Ini. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Margaret M. Poloma. (1999). Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Depdikbud

Kamis, 12 Januari 2012

1. Istilah Ilmu Pengetahuan Sosial sebenarnya sudah melekat pada diri masingmasing
individu dengan kadar yang berbeda sejak lahir. Namun secara formal
baru dikenal setelah kita memasuki jenjang pendidikan formal.
2. Kehidupan manusia itu banyak aspeknya meliputi aspek-aspek hubungan sosial,
ekonomi, psikologi, budaya, sejarah, geografi, dan politik. Aspek-aspek tersebut
dipelajari dalam Ilmu-ilmu Sosial. Apabila aspek-aspek kehidupan tersebut
dipelajari secara mendalam dan akademis maka akan melahirkan Ilmu-ilmu
Sosial, seperti Ilmu Sosiologi, Ilmu Psikologi. Ilmu Ekonomi, Ilmu Antropologi,
Ilmu Sejarah, Ilmu Geografi, dan Ilmu Politik.
3. Tujuan pendidikan IPS adalah membina anak didik menjadi warga negara yang
baik yang memiliki pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang baik yang
berguna bagi dirinya, masyarakat, dan negara.
4. IPS merupakan integrasi dari Ilmu-ilmu Sosial. Kajian IPS adalah manusia dan
lingkungan (fisik, sosial, budaya). Materinya digali dari segala aspek kehidupan
praktis sehari-hari di masyarakat.
5. Siswa SD masih dalam tahap operaional konkrit dengan ciri: perhatian mudah
beralih dan terfokus pada lingkungan terdekat, mempunyai dorongan untuk
menyelediki (inkuiri) terhadap sesuatu yang diinginkan, suka pada benda yang
bergerak, dan kaya akan imaginasi.

IPS merupakan bidang studi baru, karena dikenal sejak diberlakukan kurikulum
1975. Dikatakan baru karena cara pandangnya bersifat terpadu, artinya bahwa IPS
merupakan perpaduan dari sejumlah mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi,
sosiologi, antropologi. Adapun perpaduan ini disebabkan mata pelajaran-mata
pelajaran tersebut mempunyai kajian yang sama yaitu manusia.
Bidang studi IPS berasal dari negara Amerika Serikat dengan nama aslinya Social
Stuies. Latar belakang dimasukkannya IPS ke dalam kurikulum sekolah karena
munculnya masalah-masalah nasional sebagai akibat peristiwa G30S/PKI, salah satu
masalah tersebut adalah rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.. Untuk itu
pemerintah melakukan pembaharuan kurikulum, pendidikan dasar menjadi 8 tahun,
penggabungan bidang studi yang serumpun. Tahun 1984 pemerintah memberlakukan
kurikulum baru, di SD diajarkan IPS terpadu, SMP diajarkan IPS terkait, dan SMA
diajarkan IPS terpisah. Sejak itulah pemerintah selalu melakukan perubahan
kurikulum tidak lain adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Pendidikan IPS penting diberikan kepada siswa pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah, karena siswa sebagai anggota masyarakat perlu mengenal masyarakat dan
lingkungannya. Untuk mengenal masyarakat siswa dapat beljar melalui media cetak,
media elektronika, maupun secara langsung melalui pengalaman hidupnya ditengahtengah
msyarakat.
Dengan pengajaran IPS, diharapkan siswa dapat memiliki sikap peka dan tanggap
untuk bertindak secara rasional dan bertanggungjawab dalam memecahkan masalahmsalah
sosial yang dihadapi dalam kehidupannya.

Produksi dalam arti luas adalah setiap tindakan yang ditujukan untuk
menciptakan dan menambah manfaat atau nilai guna barang dan jasa untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Tindakan tersebut meliputi menciptakan
barang baru, mengubah bentuk barang, memindahkan barang dari satu
tempat ke tempat lain, mengatur waktu penggunaan barang , dan
menciptakan suatu jasa.
Tujuan produksi bagi perseorangan atau perusahaan adalah mencari laba
atau keuntungan, sedangkan tujuan secara nasional adalah meningkatkan
kemakmuran.
Proses produksi dapat berhasil jika dipenuhi adanya faktor-faktor produksi
yang diperlukan. Adapun faktor-faktor produksi yang dimaksud adalah
sumber daya alam (natural resources), sumber daya manusia (human
resources), sumber daya kapital (capital resources), dan keterampilan
pengusaha (skill).
Kegiatan produksi dapat dikelompokkan ke dalam lima bidang yaitu bidang
ekstratif, bidang agraris, bidang industri, bidang perdagangan, dan bidang
jasa. Untuk memperluas kegiatan produksi tersebut dapat dilakukan dengan
tiga cara yaitu ekstensifikasi, intensifikasi, dan diversifikasi.
Distribusi adalah suatu kegiatan yang dilakukan baik oleh orang atau
lembaga untuk menyalurkan atau memindahkan barang dan jasa dari
produsen ke konsumen. Distribusi ini diperlukan, karena letak produsen
tidak selalu berada dalam wilayah yang sama serta keberadaan konsumen
tersebar di berbagai daerah.
Fungsi distribusi adalah untuk menyalurkan barang-barang dari produsen ke
konsumen dan untuk memperlancar pemasaran.
Berdasarkan intensitasnya saluran distribusi dapat dibagi tiga yaitu saluran
intensif, selektif, dan eksklusif. Lembaga-lembaga distribusi yang paling
umum digunakan adalah grosir, agen, dan pedagang eceran.
Ketepatan waktu dalam melakukan distribusi sangat penting, karena
pendistribusian barang yang tidak tepat waktu akan merugikan baik
produsen maupun konsumen.
Alat distribusi yang diperlukan antara lain alat pengangkutan, alat
penyimpanan, dan alat promosi.
Konsumsi adalah tindakan manusia untuk menghabiskan atau mengurangi
manfaat atau nilai guna suatu barang dan jasa.
Secara garis besar barang konsumsi dapat dibedakan menjadi dua yaitu
barang konsumsi yang gunanya habis dalam satu kali pemakaian dan barang
konsumsi yang gunanya akan habis secara berangsur-angsur.
Suatu barang dikatakan mempunyai nilai karena barang tersebut berguna
untuk dipakai dan dapat ditukarkan dengan barang lain dalam memenuhi
kebutuhan. Nilai barang dibedakan menjadi dua yaitu nilai pakai dan nilai
tukar.
Nilai pakai dibagi menjadi dua yaitu nilai pakai obyektif dan nilai pakai
subyektif. Demikian juga nilai tukar dibedakan menjadi dua yaitu nilai tukar
obyektif dan nilai tukar subyektif

Sejarah adalah rekonstruksi masa lampau tentang apa saja yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh orang. Seorang sejarawan dapat menulis apa saja asal memenuhi syarat untuk disebut sejarah. Dimensi waktu dalam sejarah sangat penting, karena peristiwa yang menyangkut manusia itu terjadi dan berlangsung dalam dimensi ruang dan waktu. Konsep waktu dalam sejarah mempunyai arti kelangsungan (continuity). Atas kesadaran manusia, maka waktu dibagi menjadi tiga dimensi yaitu waktu yang lampau, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang dalam satu kontinuitas. Sejarah bertugas untuk membuka peristiwa masa lampau manusia, memaparkan kehidupan manusia dalam berbagai aspek kehidupan dan mengikuti perkembangan dari masa lampau hingga masa sekarang dan dijadikan pedoman di masa yang akan datang.
Manusia sebagai makhluk sosial dalam menjalani hidup dan penghidupannya selalu mengalami apa yang disebut perubahan. Perubahan itu berlangsung terus menerus berlanjut dan berkesinambungan dari masa lampau hingga sekarang dan akan terus terjadi pada masa yang akan datang. Ada dua macam perubahan yaitu perubahan sosial dan perubahan kebudayaan, namun demikian keduanya tidak dapat dipisahkan secara tegas karena saling terkait.
Perubahan sosial budaya dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu:
1. perubahan yang terjadi secara lambat dan perubahan yang terjadi secara cepat,
2. perubahan yang menimbulkan pengaruh kecil dan perubahan yang menimbulkan pengaruh besar, dan
3. perubahan yang dikehendaki atau direncanakan dan perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial budaya ada yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri (internal) dan ada yang berasal dari luar masyarakat (eksternal). Kebudayaan tidak diwariskan secara biologis, tetapi diperoleh melalui proses belajar yang didukung oleh cipta, rasa, dan karsa. Kebudayaan diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Tanpa masyarakat sukar manusia membentuk kebudayaan. Dengan adanya kebudayaan maka manusia dapat mempertahankan hidupnya. Kebudayaan meliputi kebudayaan yang bersifat material maupun kebudayaan yang bersifat non material.
Kebudayaan mempunyai unsur-unsur yang bersifat universal, maksudnya unsur tersebut dimiliki oleh semua budaya manusia dari masyarakat sederhana sampai masyarakat modern.
Menurut C. Kluckhohn unsur-unsur kebudayaan itu meliputi bahasa, sistem peralatan dan hidupdan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem religi, dan kesenian. Ketujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal itu menurut Koentjaraningrat mempunyai tiga wujud yaitu sistem budaya, sistem sosial, dan kebudayaan fisik.