Oleh :
TATANG JAELANI M.
Strategi Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) antara lain :
Penyiapan Konsep
- Pemilihan Kepala Sekolah & guru profesional
- Bentuk partisipasi orang tua
- Motivasi/kemauan orang tua
- Kemampuan alokasi dana/keuangan
- Kualitas pembelajaran & hasil lulusan
- Keterlibatan semua stakeholders pendidikan
2. Pendekatan Implementasi
Dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan/memperhatikan :
- kondisi sekolah
- kondisi sosial budaya masyarakat
- faktor geografis
- budaya
- potensi dasar masyarakat
3. Tahapan Pelaksanaan
a. Sosialisasi Konsep
b. Semiloka
c. Pelatihan
d. Pembentukan Dewan Sekolah
e. rencana Pengembangan MBS
f. Monitoring & evaluasi
g. Pembinaan
Indikator Keberhasilan Implementasi MBS
Efektivitas proses pembelajaran
Kepemimpinan kepala sekolah yang kuat
Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif
Sekolah memiliki budaya mutu
Sekolah memiliki “Teamwork” yang kompak dan cerdas
Sekolah memiliki kemandirian
• Partisipasi warga sekolah dan masyarakat
• Sekolah memiliki transparansi
• Sekolah memiliki kemauan untuk berubah
• Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan
• Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan
• Sekolah memiliki akuntabilitas
• Output prestasi sekolah
• Penekanan angka DO dan Kepauasan staf
Desentralisasi fungsi-fungsi sekolah
• Perencanaan dan evaluasi
• Kurikulum
• Ketenagaan
• Fasilitas
• Keuangan
• Kesiswaan
• Hubungan dg masyarakat
• Iklim Sekolah
Implementasi MBS dapat pula dilakukan melalui tahapan sbb :
Sosialisasi
dengan tujuan agar warga sekolah faham tentang “Apa”, “mengapa” dan “bagaimana” MBS diselenggarakan
Merumuskan Renstra
Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran sekolah
Visi : Gambaran masa depan tentang wujud organisasi yang realistik dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu.
Misi : Tindakan atau program yang harus dilakukan oleh organisasi/sekolah guna mencapai visi
Tujuan : Hasil akhir yang akan dicapai dalam jangka waktu tertentu
Sasaran : Gambaran hal yang ingin diwujudkan melalui tindakan- tindakan yang diambil organisasi /sekolah guna mencapai tujuan
• Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran
- Fungsi PBM
- Fungsi Pengembangan Kurikulum
- Fungsi perencanaan & evaluasi
- Fungsi ketenagaan
- Fungsi keuangan
- Fungsi pelayanan kesiswaan
- Fungsi pengemb. iklim akademik sekolah
- Fungsi hubungan Sekolah & masyarakat
- Funsi pengembangan fasilitas
Melakukan Analisis SWOT (Strenght, Weaknes, Opportunity, and Threat)
Untuk menentukan kesiapan setiap fungsi dan faktor guna mencapai sasaran yang telah ditetapkan
Menyusun dan melaksanakan rencana peningkatan mutu
- Rencana jangka pendek, menengah, panjang.
- Warga sekolah dituntut mampu memanfaatkan sumber daya pendidikan yang tersedia
Melakukan Monitoring dan evaluasi serta merumuskan sasaran mutu baru
Bertujuan mengetahui kekuatan dan kelemahan agar dapat diperbaiki pada tahun berikutnya
Faktor Pendukung keberhasilan MBS :
Kepemimpinan dan manajemen sekolah yang baik
Kondisi sosial, ekonomi, dan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan
Dukungan Pemerintah
Profesionalisme
Alhamdulillah…………………
Sumber :
- Drs. Hermansyah, (2008) Materi diklat P4TK Depdiknas, Bandung
- Drs. Mudjito, M.A., (1988) Manajemen Sekolah Dasar, CV.Inti Buku Utama
- Tim Pokja School Based Management, (2001), Pedoman Implementasi MBS di Jawa Barat, Dinas Pendidikan Prov. Jabar
Jumat, 22 Oktober 2010
Senin, 18 Oktober 2010
Di dalam proses pembelajaran di sekolah, sudah bukan rahasia umum lagi jika seorang guru sering menghadapi persoalan dengan sejumlah siswa, di mana setiap siswa tersebut mempunyai ciri khas masing-masing yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dalam segi kemampuan intelektual, emosional, latar belakang keluarga maupun kebiasaan.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, serta dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar tersebut berlangsung secara efektif selain diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang digunakan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik diperlukan pula aturan dan tata tertib yang baku agar dalam pelaksanaannya teratur dan tidak menyimpang. Siswa harus menjadi subjek belajar, bukan hanya menjadi pendengar setia atau pencatat yang rajin, tetapi siswa harus aktif dan kreatif dalam berbagai pemecahan masalah. Dengan demikian guru harus dapat memilih dan menentukan pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan kemampuannya, kekhasan bahan pelajaran, keadaan sarana dan keadaan siswa.
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik tentunya harus ditunjang dengan berbagai komponen sebagai penunjang proses pembelajaran tersebut, salah satunya adalah media pembelajaran. Berikut ini penulis ingin memaparkan tentang pentingnya penggunaan media pembelajaran sebagai penunjang proses belajar mengajar.
1. Pengertian Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan oleh guru sebagai alat bantu dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sehingga peserta didik dapat dengan mudah menangkap, memahami, dan memiliki pesan-pesan dan makna yang disampaikan dalam pembelajaran tersebut. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk plural dari kata “medium” yang artinya “perantara” atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dengan demikian media pembelajaran adalah media untuk membantu guru menyampaikan pesan-pesan secara lebih mudah sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara cepat dan akurat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media pengajaran adalah segala alat pengajaran yang digunakan guru sebagai perantara untuk menyampaikan bahan-bahan instruksional dalam proses belajar mengajar sehingga memudahkan pencapaian tujuan pengajaran.
Adapun tujuan dari penggunaan media pembelajaran itu sendiri adalah untuk membantu guru menyampaikan pesan-pesan secara lebih mudah kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara cepat dan akurat.
2. Pengunaan Media Pembelajaran
Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasioan bab 1 Pasal 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan agar peserta didik tersebut berperan dalam kehidupan masa depannya. Pendidikan merupakan ungkapan kasih sayang kepada anak-anak yang akan mengambil alih generasi sebelumnya. Anak-anak perlu diberi bekal di dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Pemberian bekal bagi anak-anak itulah yang dinamakan pendidikan.
Faktor kemampuan anak besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping kemampuan, faktor lain yang juga mempunyai kontribusi terhadap hasil belajar seseorang ialah motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, faktor fisik dan faktor psikis. Adanya pengaruh dari dalam diri anak merupakan hal yang logis jika dilihat bahwa perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang disadarinya. Jadi, sejauh mana usaha anak untuk mengkondisikan dirinya bagi perbuatan belajar, sejauh itu pula hasil belajar akan ia capai.
Menggunakan media pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan menciptakan kondisi belajar yang merangsang peserta didik agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Seorang guru harus dapat memilih dan menetapkan media yang paling tepat dan sesuai untuk penyampaian bahan tertentu, kondisi belajar peserta didik dan metode yang telah dipilih.
Salah satu ciri media pembelajaran adalah bahwa media mengandung dan membawa pesan atau informasi kepada penerima atau siswa. Sebagian media dapat mengolah pesan dan respons siswa sehingga media itu sering disebut media interaktif.
Secara garis besar media dapat dibedakan menjadi beberapa bagian di antaranya :
a. Media Berbasis Manusia
Media berbasis manusia merupakan media tertua yang digunakan untuk mengirimkan dan mengkomunikasikan pesan atau informasi. Media ini bermanfaat khususnya bila tujuan kita adalah mengubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa.
Salah satu faktor penting dalam pembelajaran dengan media berbasis manusia adalah rancangan pelajaran yang interaktif. Untuk dapat menentukan langkah-langkah interaktif tersebut harus diperhatikan beberapa faktor, antara lain :
- mengidentifikasi pokok bahasan pelajaran
- mengembangkan sajian pembelajaran yang mencakup semua informasi yang diharapkan siswa harus dikuasai
- membaca/mengamati keseluruhan penyajian dan menentukan di mana dialog-dialog interaktif digabung dan disisipkan.
- menetapkan jenis informasi yang diinginkan dari siswa
- menentukan pesan-pesan apa yang ingin disampaikan dengan kegiatan interaktif
- menentukan butir-butir diskusi penting dengan melibatkan siswa dalam pelaksanaannya.
b. Media Berbasis cetak
Media pembelajaran berbasis cetakan yang paling umum dikenala adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran lepas.
Beberapa cara yang digunakan untuk menarik perhatian pada media berbasis cetak adalah adanya modifikasi pada alat itu sendiri antara lain dengan cara memperhatikan warna, huruf dan kotak.
Warna digunakan sebagai alat penuntun dan penarik perhatian kepada infomasi yang penting. Sedangkan untuk menarik perhatian dalam bentuk huruf dapat dilakukan dengan cara dicetak tebal atau dicetak miring. Sementara itu penggunaan kotak merupakan penekanan kepada informasi penting yang harus diperhatikan.
c. Media Berbasisi Visual
Media berbasisi visual (image atau perumpamaan) memgang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Menggunakan media visual akan memperlancar pemahaman. Selain itu media visual juga dapat menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi dengan dunia nyata. Alat-alat yang termasuk media berbasis visual antara lain :
- Gambar/foto
- Sketsa
- Diagram
- Bagan
- Grafik
- Kartun
- Poster
- Globe, dll.
d. Media Berbasisi Audio Visual
Media visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjan penting yang diperlukan dalam audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian.
Jenis-jenia peralatan yang termasuk media berbasis audio-visual antara lain :
- Film gerak
- Program Televisi
- Video
e. Media Berbasis Komputer
Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran secara umum mengikuti proses instruksional sebagai berikut :
- merencanakan, mengatur, dan mengorganisasikan, serta menjadalkan pengajaran;
- mengevaluasi siswa (tes);
- mengumpulkan data mengenai siswa;
- melakukan analisis statistik mengenai data pembelajaran;
- membuat catatan perkembangan pembelajaran (kelompok atau perseorangan)
DAFTAR PUSTAKA
Azhar Arsyad, Prof. Dr., M.A. (1996) ”Media Pembelajaran” PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Cicih Sunarsih, Dra., MM. (2006), “Dasar-dasar PBM di Sekolah Dasar” Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (PPGT), Bandung.
Rudi Budiman, Drs.(2008). “Media Pembelajaran” P4TK & PLB, Bandung.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, serta dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar tersebut berlangsung secara efektif selain diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang digunakan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik diperlukan pula aturan dan tata tertib yang baku agar dalam pelaksanaannya teratur dan tidak menyimpang. Siswa harus menjadi subjek belajar, bukan hanya menjadi pendengar setia atau pencatat yang rajin, tetapi siswa harus aktif dan kreatif dalam berbagai pemecahan masalah. Dengan demikian guru harus dapat memilih dan menentukan pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan kemampuannya, kekhasan bahan pelajaran, keadaan sarana dan keadaan siswa.
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik tentunya harus ditunjang dengan berbagai komponen sebagai penunjang proses pembelajaran tersebut, salah satunya adalah media pembelajaran. Berikut ini penulis ingin memaparkan tentang pentingnya penggunaan media pembelajaran sebagai penunjang proses belajar mengajar.
1. Pengertian Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan oleh guru sebagai alat bantu dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sehingga peserta didik dapat dengan mudah menangkap, memahami, dan memiliki pesan-pesan dan makna yang disampaikan dalam pembelajaran tersebut. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk plural dari kata “medium” yang artinya “perantara” atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dengan demikian media pembelajaran adalah media untuk membantu guru menyampaikan pesan-pesan secara lebih mudah sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara cepat dan akurat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media pengajaran adalah segala alat pengajaran yang digunakan guru sebagai perantara untuk menyampaikan bahan-bahan instruksional dalam proses belajar mengajar sehingga memudahkan pencapaian tujuan pengajaran.
Adapun tujuan dari penggunaan media pembelajaran itu sendiri adalah untuk membantu guru menyampaikan pesan-pesan secara lebih mudah kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara cepat dan akurat.
2. Pengunaan Media Pembelajaran
Menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasioan bab 1 Pasal 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan agar peserta didik tersebut berperan dalam kehidupan masa depannya. Pendidikan merupakan ungkapan kasih sayang kepada anak-anak yang akan mengambil alih generasi sebelumnya. Anak-anak perlu diberi bekal di dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Pemberian bekal bagi anak-anak itulah yang dinamakan pendidikan.
Faktor kemampuan anak besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping kemampuan, faktor lain yang juga mempunyai kontribusi terhadap hasil belajar seseorang ialah motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, faktor fisik dan faktor psikis. Adanya pengaruh dari dalam diri anak merupakan hal yang logis jika dilihat bahwa perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang disadarinya. Jadi, sejauh mana usaha anak untuk mengkondisikan dirinya bagi perbuatan belajar, sejauh itu pula hasil belajar akan ia capai.
Menggunakan media pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan menciptakan kondisi belajar yang merangsang peserta didik agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Seorang guru harus dapat memilih dan menetapkan media yang paling tepat dan sesuai untuk penyampaian bahan tertentu, kondisi belajar peserta didik dan metode yang telah dipilih.
Salah satu ciri media pembelajaran adalah bahwa media mengandung dan membawa pesan atau informasi kepada penerima atau siswa. Sebagian media dapat mengolah pesan dan respons siswa sehingga media itu sering disebut media interaktif.
Secara garis besar media dapat dibedakan menjadi beberapa bagian di antaranya :
a. Media Berbasis Manusia
Media berbasis manusia merupakan media tertua yang digunakan untuk mengirimkan dan mengkomunikasikan pesan atau informasi. Media ini bermanfaat khususnya bila tujuan kita adalah mengubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa.
Salah satu faktor penting dalam pembelajaran dengan media berbasis manusia adalah rancangan pelajaran yang interaktif. Untuk dapat menentukan langkah-langkah interaktif tersebut harus diperhatikan beberapa faktor, antara lain :
- mengidentifikasi pokok bahasan pelajaran
- mengembangkan sajian pembelajaran yang mencakup semua informasi yang diharapkan siswa harus dikuasai
- membaca/mengamati keseluruhan penyajian dan menentukan di mana dialog-dialog interaktif digabung dan disisipkan.
- menetapkan jenis informasi yang diinginkan dari siswa
- menentukan pesan-pesan apa yang ingin disampaikan dengan kegiatan interaktif
- menentukan butir-butir diskusi penting dengan melibatkan siswa dalam pelaksanaannya.
b. Media Berbasis cetak
Media pembelajaran berbasis cetakan yang paling umum dikenala adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran lepas.
Beberapa cara yang digunakan untuk menarik perhatian pada media berbasis cetak adalah adanya modifikasi pada alat itu sendiri antara lain dengan cara memperhatikan warna, huruf dan kotak.
Warna digunakan sebagai alat penuntun dan penarik perhatian kepada infomasi yang penting. Sedangkan untuk menarik perhatian dalam bentuk huruf dapat dilakukan dengan cara dicetak tebal atau dicetak miring. Sementara itu penggunaan kotak merupakan penekanan kepada informasi penting yang harus diperhatikan.
c. Media Berbasisi Visual
Media berbasisi visual (image atau perumpamaan) memgang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Menggunakan media visual akan memperlancar pemahaman. Selain itu media visual juga dapat menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi dengan dunia nyata. Alat-alat yang termasuk media berbasis visual antara lain :
- Gambar/foto
- Sketsa
- Diagram
- Bagan
- Grafik
- Kartun
- Poster
- Globe, dll.
d. Media Berbasisi Audio Visual
Media visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjan penting yang diperlukan dalam audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian.
Jenis-jenia peralatan yang termasuk media berbasis audio-visual antara lain :
- Film gerak
- Program Televisi
- Video
e. Media Berbasis Komputer
Penggunaan komputer sebagai media pembelajaran secara umum mengikuti proses instruksional sebagai berikut :
- merencanakan, mengatur, dan mengorganisasikan, serta menjadalkan pengajaran;
- mengevaluasi siswa (tes);
- mengumpulkan data mengenai siswa;
- melakukan analisis statistik mengenai data pembelajaran;
- membuat catatan perkembangan pembelajaran (kelompok atau perseorangan)
DAFTAR PUSTAKA
Azhar Arsyad, Prof. Dr., M.A. (1996) ”Media Pembelajaran” PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Cicih Sunarsih, Dra., MM. (2006), “Dasar-dasar PBM di Sekolah Dasar” Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (PPGT), Bandung.
Rudi Budiman, Drs.(2008). “Media Pembelajaran” P4TK & PLB, Bandung.
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab II pasal 3 berbunyi : “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertangung jawab”.
A. Pengertian Kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yakni dari asal kata curir artinya pelari. Kata Curere artinya tenpat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang ditempuh oleh seorang pelari. Kurikulum diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa/murid untuk mencapai ijazah. (DR. Nana Sujana, 1987 : 2).
Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentu saja berpengaruh pula terhadap dunia pendidikan. Perubahan dalam bidang pendidikan tentu saja erat pula dengan perubahan pandangan tentang kurikulum. Konsep ini mengandung makna bahwa isi kurikulum bukan hanya sejumlah mata pelajaran, tetapi juga mencakup semua kegiatan siswa dan semua pengalaman belajar siswa di sekolah.
Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai;e.
Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional);
Menurut Yudrik Jahja (2005 : 4) menyebutkan bahwa : “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”.
Sementara itu menurut Nana Sujana (1987 : 3) menyebutkna bahwa : Kurikulum dipandang/diartikan sebagai program belajar bagi siswa (plan for learning) yang disusun secarasistematis, dan diberikan oleh sebuah lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dengan kata lain kurikulum dapat diartikan kurikulum adalah program belajar atau dokumen yang berisikan hasil belajar yang diharapkan dimiliki siswa di bawah tanggung jawab sekolah, untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pendidikan di Indonesia terus berbenah sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sesuai dengan keinginan yang ingin dicapai yang didasarkan pada tujuan pendidikan nasional. Dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, tercatat telah lahir beberapa kurikulum pendidikan yang merupakan usaha dalam rangka perbaikan sistem pendidikan.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dalam Penyusunan Kurikulum
Anak-anak usia dini hidup dalam dunia bermain. Meskipun demikian,tak ada salahnya jika orang tua memiliki rancangan bahan atau materi untuk mengisi hari-hari mereka. Hal yang pasti, kurikulum untuk anak usia dini haruslah sangat fleksibel, sesuai dengan kemampuan dan minat anak. Kelas-kelas prasekolah seperti Play Group (PG) atau Taman Kanak-Kanak (TK) pasti memiliki kurikulum dan target-target, namun karena tuntutan aturan formal, mau tidak mau guru akan menilai perkembangan anak secara kasar, berdasarkan akumulasi kemampuan yang dikuasai anak selama kurun waktu tertentu. Jelas penilaian itu tidak valid, karena ketika guru memasuki kurikulum mewarnai misalnya, beberapa anak mungkin belum siap dengan fase itu. Mereka mungkin menolak untuk melakukannya atau hanya membubuhkan satu coretan pendek di kertasnya, karena dia memang belum berminat.
Menyusun kurikulum untuk anak usia dini berarti siap mengikuti irama mereka dan siap untuk melangkah lebih jauh saat mereka berminat untuk tahu lebih banyak. Ketika anak-anak diperkenalkan tentang kuda misalnya, bisa jadi rasa ingin tahu mereka berkembang, ingin tahu tentang makanannya, di mana tidurnya, dan mungkin ingin mencoba menaikinya dan mengoleksi gambar-gambarnya. Perkembangan anak secara umum ternyata bisa diukur dengan beberapa ukuran berikut: perkembangan fisik motorik, perkembangan kognitif, perkembangan moral & sosial, emosional, dan komunikasi (Slamet Suyanto, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini:192. Penerbit: Hikayat Publishing. Yogyakarta) Kita bisa menciptakan kurikulum dengan mengacu pada teori tersebut. Berikut gambaran kasar kurikulum yang mungkin diterapkan:
1. Perkembangan fisik motorik
- Motorik Kasar: Berlari, memanjat, menendang bola, menangkap
bola, bermain lompat tali, berjalan pada titian keseimbangan, dll.
- Motorik Halus: Mewarnai pola, makan dengan sendok, mengancingkan baju, menarik resluiting, menggunting pola,menyisir rambut, mengikat tali sepatu, menjahit dengan alat jahit tiruan, dll.
- Organ Sensoris:Membedakan berbagai macam rasa, mengenali berbagai macam bau, mengenali berbagai macam warna benda, mengenali berbagai benda dari ciri-ciri fisiknya, mampu membedakan berbagai macam bentuk, dll.
2. Perkembangan Kognitif
Misalnya: mengenal nama-nama warna,mengenal nama bagian-bagian tubuh, mengenal nama anggota keluarga,mampu membandingkan dua objek atau lebih, menghitung, menata, mengurutkan; mengetahui nama-nama hari dan bulan; mengetahui perbedaan waktu pagi, siang, atau malam; mengetahui perbedaan kecepatan (lambat dan cepat); mengetahui perbedaan tinggi dan rendah, besar dan kecil, panjang dan pendek; mengenal nama-nama huruf alfabet atau membaca kata; memahami kuantitas benda, dll.
3. Perkembangan Moral dan social
Misalnya: Mengetahui sopan santun, mengetahui aturan-aturan dalam keluarga atau sekolah jika ia bersekolah, mampu bermain dan berkomunikasi bersama teman-teman, mampu bergantian atau antre, dan lain-lain.
4. Perkembangan Emosional
Misalnya: Menunjukkan rasa sayang pada teman, orang tua, dan saudaranya; menunjukkan rasa empati; mengetahui simbol-simbol emosi: sedih, gembira, atau marah dan mampu mengontrol emosinya sesuai kondisi yang tepat.
5. Perkembangan Komunikasi (Berbahasa)
Misalnya: Mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata,mampu melafalkan kata-kata dengan jelas (bisa dimengerti oleh orang lain).
Begitu beragam model kurikulum yang ada. Mau pilih yang mana? Mengumpulkan sebanyak mungkin sumber dan memilahnya sesuai kekhasan keluarga masing-masing adalah cara paling baik agar kita memiliki bahan yang lebih kaya untuk anak-anak kita.
DAFTAR PUSTAKA
Tini Sumartini, S.Pd. (206). Perkembangan Belajar Anak Usia Prasekolah, Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis, Bandung
Prof. DR. HJ. Samsunumiyati, “Psikologi Perkembangan”, PT Remaja Rosda Karya , Bandung
Yudrik Jahja, dkk (2005), “Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal”, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Jakarta.
Wikipedia Indonesia, Edisi April 2008.
A. Pengertian Kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yakni dari asal kata curir artinya pelari. Kata Curere artinya tenpat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang ditempuh oleh seorang pelari. Kurikulum diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa/murid untuk mencapai ijazah. (DR. Nana Sujana, 1987 : 2).
Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentu saja berpengaruh pula terhadap dunia pendidikan. Perubahan dalam bidang pendidikan tentu saja erat pula dengan perubahan pandangan tentang kurikulum. Konsep ini mengandung makna bahwa isi kurikulum bukan hanya sejumlah mata pelajaran, tetapi juga mencakup semua kegiatan siswa dan semua pengalaman belajar siswa di sekolah.
Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai;e.
Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional);
Menurut Yudrik Jahja (2005 : 4) menyebutkan bahwa : “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”.
Sementara itu menurut Nana Sujana (1987 : 3) menyebutkna bahwa : Kurikulum dipandang/diartikan sebagai program belajar bagi siswa (plan for learning) yang disusun secarasistematis, dan diberikan oleh sebuah lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dengan kata lain kurikulum dapat diartikan kurikulum adalah program belajar atau dokumen yang berisikan hasil belajar yang diharapkan dimiliki siswa di bawah tanggung jawab sekolah, untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pendidikan di Indonesia terus berbenah sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sesuai dengan keinginan yang ingin dicapai yang didasarkan pada tujuan pendidikan nasional. Dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, tercatat telah lahir beberapa kurikulum pendidikan yang merupakan usaha dalam rangka perbaikan sistem pendidikan.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dalam Penyusunan Kurikulum
Anak-anak usia dini hidup dalam dunia bermain. Meskipun demikian,tak ada salahnya jika orang tua memiliki rancangan bahan atau materi untuk mengisi hari-hari mereka. Hal yang pasti, kurikulum untuk anak usia dini haruslah sangat fleksibel, sesuai dengan kemampuan dan minat anak. Kelas-kelas prasekolah seperti Play Group (PG) atau Taman Kanak-Kanak (TK) pasti memiliki kurikulum dan target-target, namun karena tuntutan aturan formal, mau tidak mau guru akan menilai perkembangan anak secara kasar, berdasarkan akumulasi kemampuan yang dikuasai anak selama kurun waktu tertentu. Jelas penilaian itu tidak valid, karena ketika guru memasuki kurikulum mewarnai misalnya, beberapa anak mungkin belum siap dengan fase itu. Mereka mungkin menolak untuk melakukannya atau hanya membubuhkan satu coretan pendek di kertasnya, karena dia memang belum berminat.
Menyusun kurikulum untuk anak usia dini berarti siap mengikuti irama mereka dan siap untuk melangkah lebih jauh saat mereka berminat untuk tahu lebih banyak. Ketika anak-anak diperkenalkan tentang kuda misalnya, bisa jadi rasa ingin tahu mereka berkembang, ingin tahu tentang makanannya, di mana tidurnya, dan mungkin ingin mencoba menaikinya dan mengoleksi gambar-gambarnya. Perkembangan anak secara umum ternyata bisa diukur dengan beberapa ukuran berikut: perkembangan fisik motorik, perkembangan kognitif, perkembangan moral & sosial, emosional, dan komunikasi (Slamet Suyanto, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini:192. Penerbit: Hikayat Publishing. Yogyakarta) Kita bisa menciptakan kurikulum dengan mengacu pada teori tersebut. Berikut gambaran kasar kurikulum yang mungkin diterapkan:
1. Perkembangan fisik motorik
- Motorik Kasar: Berlari, memanjat, menendang bola, menangkap
bola, bermain lompat tali, berjalan pada titian keseimbangan, dll.
- Motorik Halus: Mewarnai pola, makan dengan sendok, mengancingkan baju, menarik resluiting, menggunting pola,menyisir rambut, mengikat tali sepatu, menjahit dengan alat jahit tiruan, dll.
- Organ Sensoris:Membedakan berbagai macam rasa, mengenali berbagai macam bau, mengenali berbagai macam warna benda, mengenali berbagai benda dari ciri-ciri fisiknya, mampu membedakan berbagai macam bentuk, dll.
2. Perkembangan Kognitif
Misalnya: mengenal nama-nama warna,mengenal nama bagian-bagian tubuh, mengenal nama anggota keluarga,mampu membandingkan dua objek atau lebih, menghitung, menata, mengurutkan; mengetahui nama-nama hari dan bulan; mengetahui perbedaan waktu pagi, siang, atau malam; mengetahui perbedaan kecepatan (lambat dan cepat); mengetahui perbedaan tinggi dan rendah, besar dan kecil, panjang dan pendek; mengenal nama-nama huruf alfabet atau membaca kata; memahami kuantitas benda, dll.
3. Perkembangan Moral dan social
Misalnya: Mengetahui sopan santun, mengetahui aturan-aturan dalam keluarga atau sekolah jika ia bersekolah, mampu bermain dan berkomunikasi bersama teman-teman, mampu bergantian atau antre, dan lain-lain.
4. Perkembangan Emosional
Misalnya: Menunjukkan rasa sayang pada teman, orang tua, dan saudaranya; menunjukkan rasa empati; mengetahui simbol-simbol emosi: sedih, gembira, atau marah dan mampu mengontrol emosinya sesuai kondisi yang tepat.
5. Perkembangan Komunikasi (Berbahasa)
Misalnya: Mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata,mampu melafalkan kata-kata dengan jelas (bisa dimengerti oleh orang lain).
Begitu beragam model kurikulum yang ada. Mau pilih yang mana? Mengumpulkan sebanyak mungkin sumber dan memilahnya sesuai kekhasan keluarga masing-masing adalah cara paling baik agar kita memiliki bahan yang lebih kaya untuk anak-anak kita.
DAFTAR PUSTAKA
Tini Sumartini, S.Pd. (206). Perkembangan Belajar Anak Usia Prasekolah, Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis, Bandung
Prof. DR. HJ. Samsunumiyati, “Psikologi Perkembangan”, PT Remaja Rosda Karya , Bandung
Yudrik Jahja, dkk (2005), “Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal”, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, Jakarta.
Wikipedia Indonesia, Edisi April 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)
