Minggu, 28 Maret 2010



Tugas pendidikan adalah mempersiapkan generasi bangsa agar mampu menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya dikemudian hari sebagai khalifah Allah di bumi. Dalam menjalankan tugas ini pendidikan berupaya mengembangkan potensi (fitrah) sebagai anugrah Allah yang tersimpan dalam diri anak, baik yang bersifat jasmaniah maupun ruhaniah, melalui pembelajaran sebuah pengetahuan, kecakapan, dan pengalaman berguna bagi hidupnya. Dengan demikian pendidikan yang pada hakekatnya adalah untuk memanusiawikan manusia memiliki arti penting bagi kehidupan anak. Hanya pendidikan yang efektif yang mampu meningkatkan kualitas hidup dan mengantarkan anak survive dalam hidupnya.

Selama ini peningkatan kualitas pendidikan terus dilakukan misalnya dengan perbaikan kurikulum, peningkatan kualitas SDM, pengadaan sumber belajar, dan sarana dan prasarana lainnya. Seminar, pelatihan, dan berbagai program sosialisasi dan pembinaan telah dilakukan, namun upaya ini belum menampakan hasil yang optimal.

Pendidikan merupakan ungkapan kasih sayang kepada anak-anak yang akan mengambil alih generasi sebelumnya. Anak-anak perlu diberi bekal di dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Pemberian bekal bagi anak-anak itulah yang dinamakan pendidikan. Pendidikan menyangkut hal-hal kognitif, menyentuh aspek afektif (sikap, kepribadian, kejiwaan, mental), dan psikomotorik (keterampilan), pendidikan merupakan pembentukan diri secara menyeluruh. Oleh sebab itu, guru dituntut tidak sekedar berperan sebagai transformator pengetahuan, tetapi juga sebagai pendamping (nurturing effect) yang berkewajiban membentuk dan mewarnai kepribadian dan moralitas siswanya.

Dalam pendidikan membaca merupakan hal yang paling utama untuk memperoleh apa yang diharapkan yaitu meraih apa yang dicita-citakan. Kegiatan membaca merupakan salah satu ujung tombak bagi perkembangan peradaban umat manusia. Sejarah kerasulan Muhammad SAW mengungkapkan bahwa wahyu yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5 yang dimulai dengan kata Iqro, “bacalah!” jika kita mencermati redaksi ayat yang pertama diturunkan tersebut, didalamnya tidak disebut objek secara tekstual (tersurat) atau objek secara kontekstual (tersirat). Hal ini membuktikan bahwa makna bacaan dari ayat tersebut mengandung dua unsur, yakni bacaan yang tersurat dan tersirat

Ayat tersebut memberi isyarat yang sangat baik sebagai pola pikir manusia, khususnya bagi umat Islam. Erat kaitannya dengan membaca, perlu adanya solusi bagaimana cara agar tertanam gemar membaca terutama bagi anak sejak usia dini. Oleh sebab itu banyak faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran terutama bagi anak-anak salah satunya adalah guru. Guru disini merupakan transformator terhadap anak, guru harus mengetahui psikologi anak supaya dalam proses pembelajaran mudah dicerna oleh anak sehingga anak memiliki pemahaman yang baik. Banyak model-model yang perlu dikuasai oleh guru terutama bagaimana cara mengajar anak dibawah umur 6 tahun dalam belajar Al Quran secara cepat.

Sementara itu, membimbing anak dibawah umur dalam belajar cepat membaca Al Quran haruslah disesuaikan dengan psikologi anak tersebut. Salah satu model pembelajaran yang efektif dalam proses belajar Al Quran secara cepat adalah model pembelajaran pengulangan, pendidikan yang efektif dilakukan dengan berulang kali sehinnga anak memiliki pemahaman yang baik. Pembimbing/guru dalam melaksanakan pembelajaran tersebut hal-hal berikut :

1. Keikhlasan

Ikhlas adalah timbulnya ketulusan beramal karena Allah dan ikhlas karena Allah adalah sebuah kewajiban dalam setiap tindakan. Sikap ikhlas mesti ditanamkan kepada anak didik baik dalam belajar, bersikap dan berbuat sekecil apapun. Jika rasa ikhlas itu sudah tumbuh pada diri anak, maka keikhlasan itu akan menjadi kekuatan yang dahsyat yang mampu mengubah segala perilaku dalam kehidupan.

2. Penumbuhan Kreatifitas

Penumbuhan kreatifitas anak dilakukan dengan cara menumbuhkan rasa ingin tahu dengan melakukan pertanyaan.

3. Pembiasaan

Al Quran menjadikan pembiasaan itu sebagai salah satu teknik atau metode pendidikan, yang dilakukan secara bertahap dalam menciptakan kebiasaan yang baik dan menghilangkan kebiasaan yang buruk.

4. Pengulangan

Pendidikan yang efektif dilakukan dengan berulang kali sehingga anak memiliki pemahaman yang baik.

Namun disisi lain, model pembelajaran tersebut belum diketahui secara pasti, apakah model pembelajaran tersebut secara empirik di lapangan dapat terlaksana dengan baik ataukah sebaliknya, dalam artian model pembelajaran tersebut apakah cocok untuk anak dibawah umur 6 tahun, dan bagaimana dampaknya terhadap psikologi anak, apakah lebih banyak sisi positifnya atau negatifnya terutama terhadap psikologi anak.


Sumber :

Dakir, Dasar-dasar Psikologi. Pustaka Pelajar, 1993 Jakarta.

Soegarda Purbakawatja, harahap Ensiklopedi Islam. Gunung Agung, Jakarta.1995

Elizabeth, B. Hurlock Psikologi Perkembangan. Erlangga, Jakarta.1994

Sumadi Suryabrata Psikologi Kepribadian. Citra Niaga, Jakarta.1998


0 komentar:

Posting Komentar